Tampilkan postingan dengan label Ajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2015

Sejarah Agama Hindu

I. Pendahuluan 
Tidak bisa dipungkiri bahwa Agama Hindu tidak terlepas dari peradaban zaman India Kuno pada waktu itu. Peradaban yang dilatarbelakangi oleh adat istiadat dn kepercayaan-kepercayaan, sungguh menjadi khazanah wawasan keagamaan tersendiri bagi agama Hindu dan pemeluknya. 

Agama Hindu merupakan salah satu contoh agama yang kami angkat tema pada kali ini merupakan hasil dari sejarah. Dari pada itu sejarah merupakan hal yang mendasari segala aspek kehidupan. Pada kali ini kami ingin memaparkan secara sederhana tentang asal-usul Agama Hindu. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. 

II. Asal-usul Agama Hindu dan Pembawanya 
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi", dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). 

Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta).

Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda. 

 Agama Hindu sebagaimana nama yang dikenal sekarang ini, pada awalnya tidak disebut demikian, bahkan dahulu ia tidak memerlukan nama, karena pada waktu itu ia merupakan agama satu-satunya yg ada di muka bumi. Sanatana Dharma adalah nama sebelum nama Hindu diberikan. Sanatana dharma yang memiliki makna "kebenaran yg kekal abadi" dan jauh belakangan setelah ada agama-agama lainnya barulah ia diberi nama untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sanatana dharma pada zaman dahulu kala dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai shindu, penganut Weda ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang indu (tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lama-kelamaan nama indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut sanatana dharma disebut Hindu. 

Agama hindu adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada kitab suci yang disebut Weda. Weda diyakini sebagai pengetahuan yang tanpa awal tanpa akhir dan juga dipercayai keluar dari nafas Tuhan bersamaan dengan terciptanya dunia ini. Karena sifat ajarannya yng kekal abadi tanpa awal tanpa akhir maka ia disebut sanatana dharma. Apabila membahas tentang Agama Hindu, kita harus mengetahui sejarah tempat munculnya agama tersebut. India adalah sebuah Negara yang penuh dengan rahasia dan cerita dongeng, masyarakatnya berbangsa-bangsa dan berkasta-kasta, malah ada masyarakat dalam masyarakat, serta sungguh banyak ditemui agama-agama. Bahasa dan warna kulit pun bermacam-macam. 

Pembicaraan mengenai India berarti adalah pembicaraan yang bercabang-cabang. Dipandang dari sudut ethnologi, India adalah tanah yang beraneka penduduknya, dan akibatnya orang dapat melihat kebudayaan yang beraneka pula. Semuanya ini tercermin dalam agamanya. Oleh karena itu barangsiapa mulai mempelajari agama Hindu ia akan segera merasa terlibat dalam sejumlah ajaran-ajaran, sehingga hampir tidak dapat menemukan jalan untuk mengadakan penyelidikan. Sepanjang orang dapat menyelidikinya, maka sejarah kebudayaan India mulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, rupa-rupanya di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris. Berbagai cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita bahwa di dalam zaman itu di sepanjang pantai dari Laut Tengah sampai ke Teluk Benggala terdapat sejenis peradaban yang sama dan yang sudah meningkat pada perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di dekat kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara Karachi. Bahkan disitu diketemukan sisa-sisa sebuah kota, Mohenjodaro namanya, di mana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga. 

Penduduk India pada zaman itu terkenal sebagai bangsa Drawida. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memrintah negerinya sendiri, karena mereka di sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan kecil dan berambut keriting. Nama India diambil dari sungai Indus. Perkataan Ind dan Hindu keduanya berarti bumi yang terletak di belakang Sungai Indus, dan penduduknya dinamakan orang-orang India atau orang-orang Hindu. 

Mengenai penamaan Negara India, Gustav Le Bon berkata: “Orang-orang Barat berpendapat bahwa nama Sungai Indus telah dipinjamkan kepada negara yang mengandung berbagai rahasia yang terletak di sebelah belakangnya. Alasan ini tidak diterimanya bulat-bulat sebab nama India itu harus diambil dari nama Tuhan Indra.” Peradaban India telah berlangsung lama. Negara india telah menghasilkan beberapa Filosof agung sebelum Socrates dilahirkan. Di Negara India ini sudah tersebar tanda-tanda ilmu pengetahuan dan bangunan-bangunan yang megah pada suatu masa dahulu ketika Kepulauan Inggris masih dalam keadaan terbelakang. India adalah negara yang penuh dengan keajaiban dan pertentangan, hingga boleh dianggap sebagai sebuah Negara yang mengandung negara-negara. India adalah salah satu pusat peradaban kuno di dunia. 

Dalam hal ini, India menandingi Mesir, Cina, Assyria, dan Bailonia. Tetapi, peradaban India yang mendahului zaman Arya hanya baru dapat diketahui dan ditemukan dengan pengungkapan-pengungkapan baru dalam tingkatan kemajuan yang pernah dicapai oleh India dalam bidang arsitektur, pertanian, dan kemasyarakatan sejak masa 300 tahun SM, yaitu 1500 tahun sebelum kedatangan bangsa Arya. Antara 2000 dan 1000 tahun SM masuklah ke India dari sebelah utara kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu-Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani dan Romawi dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan Asia. Mereka tergolong dalam apa yang kita sebut rumpun-bangsa Indo-German. Hinduisme dapat disamakan dengan rimba raja yang penuh dengan pohon-pohonan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan dan kembang-kembangan, pendeknya suatu serba ragam yang sulit sekali. Karena Hinduisme memperlihatkan berbagai bentuk dan bermacam-macam gejala-gejala agama. Suatu penyampuradukkan dari pada tokoh-tokoh dewa, bentuk-bentuk kultur, sel-sel agama dan mazhab-mazhab agama berdasarkan filsafat. 

Suatu perbedaan yang rumit antara pernyataan-pernyataan mistik yang sangat murni dan luhur atau pernyataan cinta yang mesra terhadap dewata pemurah yang tunggal dan bentuk-bentuk keagamaan dimana nafsu-nafsu manusia yang rendah dengan sejarah kasar menampakkan dirinya. Gambaran yang diberikan Hinduisme dalam keseluruhannya memang beraneka warna dan mengacaukan. Pesan pertama yang kita dapat ialah bahwa dalam Hinduisme boleh dikatakan terhimpun seluruh sejarah agama dengan segala ragam dan bentuk kesalahannya. Tetapi hal ini justru menambah kesulitan untuk mencoba apa yang mau dilakukan dalam karangan ini, yaitu menggambarkan Hinduisme secara ringkas. Kendati demikian kita harus mencoba membentuk pengertian tentang wujud Hinduisme. Biarpun kita tak dapat berbuat lebih dari pada hanya memberikan sesuatu gambaran dalam garis-garis besar dengan harapan semoga gambaran ini menyerupainya. Hinduisme ialah agama dari pada jutaan penduduk India. 

Tidaklah mudah untuk menentukan dengan kata-kata singkat, apa sebenarnya Hinduisme itu. Oleh karena itu, Hinduisme hamper sama sekali tak mempunyai bentuk dan terlalu merupakan suatu himpunan unsure-uunsur yang tak sama. Tetapi terutama sekali oleh karena terhadap Hinduisme tak dapat dipakai rumusan-rumusan yang biasa dipakai untuk merumuskan apakah agam itu. 

Pertama-tama Hinduisme tak ada pendirinya sehingga kita tak dapat menyimpulkan dari ajaran atau khutbahnya siapa sebetulnya Hinduisme itu. Penganut-penganutnya tak diharuskan mempunyai suatu keyakinan tertentu mengenai Tuhan, manusia dan dunia. Dalam Hinduisme tidak ada suatu pengakuan iman yang dapat dirumuskan dengan jelas yang disetujui oleh semua penganutnya. Juga tidak ada suatu atau bermacam-macam organisasi keagamaannya yang menghimpun semua penganutnya. Lebih tepat rasanya jika Hinduisme kita namakan suau system social yang diperkuat oleh cita-cita keagamaan dan dengan demikian lalu mempunyai tendensi keagamaan. Tak ada seorang pun yang dapat menjadi seorang Hindu dengan jalan menganut suatu agama tertentu. Seseorang adalah Hindu berkat kelahirannya. Keadaan ini meletakkan kewajiban untuk megikuti peraturan-peraturan upacara-upacara tertentu, pada umumnya peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pembagian kasta dan khsusunya pemberian korban dan upacara –upacara keagamaan dan timbul dari pada pembagian kasta tadi. Ikatan-ikatan batin pada upacara yang turun temurun ini sangat kuat. Hal ini nyata sekali pada diri Gandi yang jelas bersimpati terhadap agama Kristen, tetapi tetap tinggal Hindu karena pertaniannya dengan bangsanya dan bubungan batinnya dengan kebudayaan agama sukunya. Bangsa Arya yang turun ke lembah Indus kira-kira 1500 tahun SM yang memberi corak pada kebudayaan India. Bangsa Arya ini satu suku dengan bangsa Iran yang bernabikan Zarathustra. 

Para peneliti berpendapat, dan ini lebih tepat, bahwa bangsa Arya ini berasal dari Asia, dahulunya mereka hidup di Asia Tengah di negeri Turkistan berdekatan dengan Sungai Jihun, kemudian berpindah pula dalam kelompok-kelompok yang besar menuju ke India melalui Parsi, dan mereka juga menuju Eropa. Nyatalah bahwa kedatangan bangsa Arya ke India terjadi pada abad ke-15 SM. Bangsa Arya ini telah memerangi kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh bangsa berkulit kuning di India itu dan berhasil mengalahkan sebagaian besar dari mereka serta menjadikan kawasan-kawasan yang dikalahkannya itu sebagai wilayah yang tunduk di bawah pengaruh mereka. 

Bangsa Arya tidak bercampur dengan penduduk India dengan jalan perkawinan, malah mereka menjaga dengan sungguh-sungguh keturunan mereka yang berkulit putih itu, dan menggiring penduduk asli Negara India ke hutan-hutan dan ke gunung-gunung atau menjadikan mereka sebagai orang-orang tawanan yang dinamakan dalam sastra lama Bangsa Arya sebagai Bangsa Hamba Sahaya. Bangsa Arya ini telah meminta pertolongan dari Tuhan mereka “Indra” untuk mengalahkan penduduk India. Di antara bacaan do’a mereka adalah “wahai Indra Tuhan kami! Suku-suku kaum Dasa (budak) telah mengepung kami dari segenap penjuru dan mereka tidak memberikan korban apa-apa, mereka bukan manusia dan tidak berkepercayaan. Wahai Penghancur musuh! Binasakanlah mereka dari keturunannya.” Tentang sejauh mana pengaruh bangsa-bangsa berkulit kuning (Bangsa Turan) dan berkulit putih (Bangsa Arya) di India telah diterangkan oleh Gustav Le Bon: “Bangsa Turan adalah bangsa penyerang yang kuat sekali mengubah penduduk negeri India dari segi fisik dan bangsa Arya juga meninggalkan kesan yang mendalam terhadap bangsa India dari segi budaya. Dari bangsa Turan, penduduk India mengambil ciri ukuran tubuh dan raut muka, dan dari bangsa Arya mereka mengambil ciri bahasa, agama, undang-undang, dan adat-istiadat.” Pertemuan bangsa Arya dan bangsa Turan dengan penduduk asli telah menimbulkan kasta-kasta masyarakat di India dan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam sejarah negara ini. Dari bangsa Arya terbentuk golongan ahli-ahli agama (Brahmana) dan golongan prajurit (Ksatria). 

Dari bangsa Turan terbentuk pula golongan saudagar dan ahli-ahli tukang (Waisya). Pada mulanya orang-orang Hindu yang bergaul dengan bangsa Turan tidak termasuk dalam pembagian ini, tetapi dalam beberapa zaman kemudian peradaban Arya meresap ke dalam sebagian diri mereka, lalu bangsa Arya pun terbentuk dari kalangan orang-orang Hindu golongan keempat, yaitu golongan pesuruh dan hamba sahaya (Sudra). Penduduk-penduduk asli yang tidak tersentuh dengan peradaban Arya adalah disebabkan karena mereka memisahkan diri dari bangsa-bangsa pendatang itu. Maka, tinggallah mereka jauh dari pembagian ini dan terus menjadi orang-orang yang tersingkir atau terhalau dari masyarakat (out-casts). 

Untuk lebih jauh penjelasan tentang golongan-golongan ini akan dijelaskan pada makalah lain yang akan berbicara tentang golongan-golongan tersebut. Mungkin sekali bangsa-bangsa Arya itu ketika masuk ke India kurang beradab daripada bangsa Drawida yang ditaklukkannya. Tetapi mereka lebih unggul dalam ilmu peperangan daripada bangsa Drawida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke India, mereka itu masih merupakan bangsa setengah nomad (pengembara)., yang baginya peternakan lebih besar artinya daripada pertanian. Bagi bangsa Arya, kuda dan lembu adalah binatang-binatang yang sangat dihargai, sehingga binatang-binatang itu dianggap suci. Dibandingkan dengan bangsa Drawida yang tinggal di kota-kota dan mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan di sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu bolehlah dikatakan primitive. Dahulu orang tidak tahu dengan tepat dan selalu memandang kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Arya. Tetapi terutama sesudah penggalian-penggalian tersebut di atas, berubahlah pandangan orang dan makin banyak diketahui, bahwa bermacam-macam unsure di dalam kebudayaan India berasal dari kebudayaan Drawida yang tua itu. Umpamanya saja bangsa Arya belum mempunyai patung-patung dewa, bangsa Drawida sudah. Sebuah gejala yang tipik atau khas di dalam agama Hindu ialah pengakuan adanya dewa-dewi induk. Itupun suatu gejala pra-Arya. Demikian pula banyak gejala-gejala Agama Hindu yang rupa-rupanya tidak berasal dari agama bangsa Arya, melainkan berasal dari aama bangsa Drawida. Jadi dapatlah dikonstatir dengan jelas bahwa Agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan fikiran keagamaan dua bangsa yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi kemudian lebur menjadi satu. Di dalam tulisan-tulisan Hinduistis yang tertua, unsur-unsur Arya lah yang sangat besar pengaruhnya. Hal itu tidak mengherankan karena tulisan-tulisan itu berasal dari zaman bangsa Arya memasuki India dengan kemenangan-kemenangan, jadi pengaruh Drawida tentunya belum begitu besar. Agama bangsa Arya kita kenal dari kitab-kitabnya yang mengenai agamanya, yakni kitab-kitab Weda (Weda artinya tahu). Oleh karena itu masa yang tertua dari agama Hindu disebut masa Weda. Maulana Mohamed Abdul Salam al-Ramburi juga berkata: “Umat India mudah menerima apa saja pemikiran dan kepercayaan yang ditemuinya. Di kalangan mereka banyak terdapat pendapat dan kejahilan. Orang-orang berada dalam kebingungan dan bersedia menerima dan mengukuhkan semua ini…. Kepercayaan mereka bermacam-macam, pemikiran mereka bercabang-cabang, gejala ketuhanan merebak, begitu juga ilmu-ilmu kebatinan. Sarana-sarana untuk berfikir dan menyepi telah disediakan di seluruh penjuru negeri India oleh para Pendeta dan Cendekiawan. Lahirlah beberapa pengkajian moral yang diikuti oleh segenap golongan masyarakat. Tersebar jugalah latihan-latihan badan yang berat dan sulit untuk mendapatkan suatu kekuatan yang dapat menguasai kekuatan alam. Pertapaan di gua-gua sebagai suatu pengawasan atas diri adalah menjadi tumpuan, begitu juga pengasingan diri ke hutan-hutan rimba untuk melemaskan tubuh supaya dapat naik mencapai kekuatan rohani.” Oleh karena itu, Negara India terkenal mempunyai banyak agama dan kepercayaan yang menyamai atau hamper-hampir sama banyaknya dengan jumlah bahasa India. Agama Hindu adalah yang termasyhur di antara agama-agama ini dan luas sekali penyebarannya, malah dialah agama umum yang meliputi kebanyakan atau semua orang India. Kadang-kadangn sekiranya mereka atau sebgian dari mereka bangkit menentangnya, penentang-penentang itu lambat laun akan kembali ke pangkuannya. Buku Hinduism telah menerangkan sebab-sebab terjadinya hal demikian dengan menuliskan: “Amat sulit untuk dikatakan bahwa Hinduisme itu adalah suatu agama dalam pengertiannya yang sangat luas. Hinduisme lebih meliputi dan lebih dalam daripada agama. Ini merupakan suatu sifat bagu bentuk masyarakat India dengan aturan berkasta-kasta dan kedudukan tiap-tiap kasta itu di dalam masyarakat. Ini merupakan kehidupan India dengan caranya tersendiri yang dianggap sebagai satu dari semua masalah suci dan masalah hina karena di dalam pemikiran Hindu tidak ada batas yang memisahkan keduanya. Ini merupakan aliran-aliran rohani, moral dan perundangan. Di samping itu, ia juga merupakan prinsip-prinsip, ikatan-ikatan, dan kebiasaan-kebiasaan yang menguasai dan mengendalikan kehidupan Hindu.” Agama Hindu adalah suatu agama yang berevolusi dan merupakan kumpulan adat-istiadat dan kedudukan yang timbul dari hasil penyusunan bangsa Arya terhadap kehidupan mereka yang terjadi pada satu generasi ke generasi yang lain sesudah mereka datang berpindah ke India dan menundukkan penduduk asli itu. Kedudukan bangsa Arya sebagai penakluk negeri yang lebih tinggi daripada kedudukan penduduk asli serta pergaulan mereka telah melahirkan adat-istiadat Hindu itu yang dianggap menurut perputaran sejarah, sebagai suatu agama yang dianut dan dipegang tata susilanya oleh orang-orang India. Kiranya dapat dikatakan bahwa asas Agama Hindu adalah kepercayaan bangsa Arya yang telah mengalami perubahan sebagai hasil dari percampuran mereka dengan bangsa-bangsa lain, terutama sekali adalah bangsa Parsi, yaitu sewaktu dalam masa perjalanan mereka menuju India. Kemudian, kepercayaan-kepercayaan ini menerima kesan pula di negeri India setelah berbenturan dengan pemikiran-pemikiran penduduk asli dan dengan falsafah-falsafah dan pemikiran-pemikiran yang telah ada di India dalam beberapa tingkatan sejarah yang berjauhan hingga Agama Hindu itu menyimpang jauh dari kepercayaan asli bangsa Arya. Agama Hindu lebih merupakan suatu cara hidup daripada merupakan kumpulan kepercayaan. Sejarahnya menerangkan mengenai isi kandungannya yang meliputi berbagai kepercayaan, hal-hal yang harus dilakukan, dan yang boleh dilakukan. Agama ini tidak mempunyai kepercayaan yang membawanya turun hingga kepada penyembahan batu dan pohon-pohon, dan membawanya naik pula kepada masalah-masalah falsafah yang abstrak dan halus. Seandainya Agama Hindu tidak mempunyai pendiri yang pasti maka begitu pula halnya dengan Weda. Kitab suci ini yang mengandung kepercayaan-kepercayaan, adat-istiadat, dan hukum-hukum juga tidak mempunyai pencipta yang pasti. Para penganut agama Hindu mempercayai bahwa kitab ini adalah suatu kitab yang ada sejak dahulu yang tidak mempunyai tanggal permulaan. Kitab ini diwangsitkan sejak awal kehidupan, setara dengan awal yang mewangsitkannnya. Mari kita baca sekilas tentang bangsa Dravida dan bangsa Arya. 

Bangsa Dravida di India 

Penduduk India yang asli pada waktu bangsa Arya menyerbu ke India terutama masuk bangsa Dravida. Bangsa ini ialah penduduk asli yang diketemukan menduduki kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara kota Karachi pada tahun 3000-2000 SM. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tapi lama kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah negerinya sendiri, karena mereka sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan kecil dengan rambut keriting. Bangsa Dravida mempunyai peradaban tinggi waktu itu, ternyata di daerah Punjab dan lereng sungai gangga terdapat daerah yang subur yang sudah dikerjakan oleh bangsa Dravida. Dan di kota-kota yang terkenal disebut Mohenjodaro dan Harappa pun sudah dibuat rumah-rumah batu yang dikerjakan oleh mereka. Mereka bercocok tanam dan pandai berlayar menyusur pantai. 

Bangsa Arya

Bangsa Arya ialah suatu bangsa yang masuk ke India kira-kira pada tahun 2000-1000 SM, dari sebelah utara. Mereka ialah kaum yang memisahkan diri dari bangsanya di Iran dan memasuki India melalui jurang-jurang di Pegunungan Hindu Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani, Romawi, dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan di Asia. Mereka tergolong apa yang disebut rumpun bangsa Indo-German. Setelah datang di India mereka menetap di daratan sungai Sinhu yang pada zaman itu masih subur jadi di daerah itu mereka telah menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam beberapa hal mereka berbeda dengan bangsa Dravida. Mereka berkulit putih dan berbadan tegak, bentuk hidungnya melengkung sedikit. Kemudian mereka telah jauh memasuki India sampai di tepi Sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan. Dan disitu mereka makin bercampur dengan bangsa Dravida dan dengan demikian terwujudlah kemudian suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan Dravida yang tua itu dengan kebudayaan Arya maka terjadilah kemudian kebudayaan India. 

III. Agama Lembah Sungai Indus 
Peradaban Lembah Sungai Indus 
Penduduk asli Lembah sungai Indus adalah bangsa Dravida yang berkulit hitam. Di sekitar sungai itu terdapat dua pusat kebudayaan yaitu Mohenjo Daro dan Harappa. Mereka sudah menetap di sana dengan mata pencaharian bercocok tanam dengan memanfaatkan aliran sungai dan kesuburan tanah di sekitarnya. Menurut teori kehidupan bangsa Dravida mulai berubah sejak tahun 2000-an SM karena adanya pendatang baru, bangsa Arya. Mereka termasuk rumpun berbahasa Indo-Eropa dan berkulit putih. Bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida ke bagian selatan India dan membentuk Kebudayaan Dravida namun, sebagian lagi ada yang bercampur antara bangsa Arya dan Dravida yang kemudian disebut bangsa Hindu. Oleh karena itu, kebudayaannya disebut kebudayaan Hindu. 

Peradaban Lembah Sungai Indus 
1) Letak Geografis Sungai Indus 
a. Di sebelah Utara berbatasan dengan China yang dibatasi Gunung Himalaya 
b. Selatan berbatasan dengan Srilanka yang dibatasi oleh Samudera Indonesia 
c. Barat berbatasan dengan Pakistan 
d. Timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh 

2) Peradaban sungai Indus (2500 SM) 
a. Kebudayaan kuno India ditemukan di kota tertua India yaitu daerah Mohenjodaro dan Harappa. 
b. Penduduk Mohenjodaro & Harappa adalah bangsa Dravida 
c. Saluran air bagus 
d. Terdapat hubungan dagang antara Mohenjodaro dan Harappa dengan Sumeria. 
e. Perencanaan yang sudah maju 
f. Rumah-rumah terbuat dari batu-bata 
g. Mohenjodaro dan Harappa merupakan kota tua yang dibangun berdasarkan : 
h. Jalan raya lurus dan lebar 

1. Pusat Peradaban 
Peradaban Lembah Sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi-diKota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibukota daerahLembah Sungai Indus bagian selatan dan Kota Harappa sebagai ibukota Lembah Sungai Indusbagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India pada masalampau. 

2. Tata Kota 
Di Kota Mohenjodaro dan terdapat gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoandibangun secara teratur dan berdiri kukuh. Gedung-gedung dan rumah tinggal dan pertokoan itusudah terbuat dari batu bata lumpur. Wilayah kota dibagi atas beberapa bagian atau blok yang dilengkapi jalan yang adaaliran airnya. 

3. Sistem Pertanian dan Pengairan 
Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi matapencaharian utama masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telahberhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerahpedalaman. Pembuatan saluran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukkanbahwa masyarakat Lembah Sungai Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasilpertanian yang utama adalah padi, gandum, gula/tebu, kapas, teh, dan lain-lain. 

4. Sanitasi (Kesehatan) 
Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan sanitasi (kesehatan)lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang telah memperhatikanfaktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah mereka sudah dilengkapi olehjendela. 

5. Teknologi 
Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi,Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan budaya yang ditemukan,seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai macam patung, perhiasan emas,perak, dan berbagai macam meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alatpeperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah 

6.Pemerintahan 
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Maurya antara lain sebagai berikut : 
a. Candragupta Maurya 
Setelah berhasil menguasai Persia, pasukan Iskandar Zulkarnaen melanjutkan ekspansidan menduduki India pada tahun 327 SM melalui Celah Kaibar di Pegunungan Himalaya.Pendudukan yang dilakukan oleh pasukan Iskandar Zulkarnaen hanya sampai di daerah Punjab.Pada tahun 324 SM muncul gerakan di bawah Candragupta. Setelah Iskandar Zulkarnaenmeninggal tahun 322 SM, pasukannya berhasil diusir dari daerah Punjab dan selanjutnyaberdirilah Kerajaan Maurya dengan ibu kota di Pattaliputra. Candragupta Maurya Menjadi raja pertama Kerajaan Maurya. Pada masapemerintahannya, daerah kekuasaan Kerajaan Maurya diperluas ke arah timur, sehinggasebagian besar daerah India bagian utara menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktusingkat, wilayah Kerajaan Maurya sudah mencapai daerah yang sangat iuas, yaitu daerahKashmir di sebelah barat dan Lembah Sungai Gangga di sebelah timur. 

b. Ashoka 
Ashoka memerintah.Kerajaan Maurya dari tahun 268-282 SM. Ashoka merupakan cucudari Candragupta Maurya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Maurya mengalami masayang gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasainya. Namun, setelah ia menyaksikankorban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan dan tidak lagimelakukan peperangan. Mula-mula Ashoka beragama Hindu, tetapi kemudian menjadi pengikut agama Buddha.Sejak saat itu Ashoka menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi negara. Setelah Ashokameninggal, kerajaan terpecah-belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering terjadi dan barupada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil mempersatukan kerajaan yang terpecahbelah itu. Maka berdirilah Kerajaan Gupta dengan Candragupta I sebagai rajanya. 

7. Kepercayaan 
Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau memujabanyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan kemakmuran (Dewi Ibu).  Masyarakat lembah Sungai Indus juga menyembah binatang-binatang seperti buaya dangajah serta menyembah pohon seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkansebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. 

Peradaban lembah sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi di kota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibu kota daerah lembah sungai Indus bagian selatan. Dan kota Harappa sebagai Ibu kota lembah sungai Indus bagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India pada masa lampau. 

System kepercayaan masyarakat lembah sungai Indus bersifat politeisme atau memuja banyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan kemakmuran. Masyarakat lembah sungai Indus juga menyembah binatang seperti buaya, gajah, serta menyembah pohon seperti pohon beringin, dan lain-lain. Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. Bangsa Arya dan bangsa Dravida merupakan bangsa yang memiliki ideology keagamaan yang berbeda satu sama lain, akan tetapi dari kedua ideology agama tersebut, melahirkan suatu agama persatuan dari keduanya, yakni agama Hindu. Interaksi bangsa Dravida dan bangsa Arya menghasilkan Agama Hindu. 

IV. Kesimpulan 
Secara historis, agama Hindu merupakan agama yang berasal dari Negara India. Agama Hindu juga merupakan salah satu agama yang tertua di dunia. Agama Hindu dilihat dari sejaraah mulanya, agama ini merupakan hasil persatuan antara keprcayaan atau agama-agama yang berada di India. Bangsa Dravida merupakan bangsa yang berasal dari dalam India, akan tetapi setelah datangnya bangsa Arya yang telah merebut kekuasaan bangsa Dravida pada waktu itu. Bangsa Dravida pun menghindari dari kecaman bangsa Arya, sehingga bangsa Dravida pergi menuju pedalaman bahkan bertempat di dataran tinggi India. Interaksi antara keduanya juga salah satu dari asal-mulanya agama Hindu. Persatuan yang mendesak bangsa Dravida membuat mereka bercampur dengan bangsa Arya dan melahirkan kepercayaan yang hingga sekarang ada di dunia, yakni agama Hindu. 

V. DAFTAR PUSTAKA 
Thalhas, T. H. Pengantar Studi Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta: Galura Pase, 2006. 
Honig Jr, A. G. Ilmu Agama. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1997. 
Shalaby, Ahmad. Perbandingan Agama; Agama-Agama Besar di India; Hindu-Jaina-Budha. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2001. 
Bleeker, C. J. Pertemuan Agama-Agama Dunia. Jakarta: Sumur Bandung, 1963. 
Rifa’I, Moh. Perbandingan Agama. Semarang: Wicaksana, 1980.
»»  READMORE...

Pembaruan di Mesir


Reformasi Islam lahir pada akhir abad ke-19 sebagai jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin. Sedangkan yang menjadi isu sentral mereka adalah upaya agar keyakinan agama sesuai dengan pemikiran modern. Termasuk pula dalam hal ini tentunya, pemahaman umat Islam terhadap Alquran. 

Kesadaran akan perlunya diadakan pembaharuan timbul pertama kali di Kerajaan Turki Utsmani dan Mesir. Orang-orang Turki Utsmaniyah sejak awal telah mempunyai kontak langsung dengan Eropa, karena kekuasaan Kerajaan Turki Ustmani hingga abad ke-17 Masehi telah menca
pai Eropa Timur yang meluas sampai ke gerbang kota Wina. Tetapi sejak abad ke-18, Kerajaan Tukri Ustmani mulai mengalami kekalahan dari kerajaan-kerajaan Eropa. Kekalahan oleh Eropa –yang pada abad-abad sebelumnya masih dalam keadaan mundur– inilah yang menjadi pemicu adanya pembaharuan di Kerajaan Turki.

Sementara pembaharuan yang terjadi di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M. Kedatangan Napoleon ini juga membawa banyak oleh-oleh dari Eropa yang berupa ilmu pengetahuan, kebudayaan dan teknologi, hingga ia mampu mendirikan lembaga ilmiah Institut d’Egypte. Di samping itu Napoleon juga mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama Al-Azhar. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya pembaharuan dalam Islam di Mesir. 

Berbicara tentang proses pembaharuan di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh pembaharu yaitu Jamaluddin al-Afghani (1839-1877 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M) dan Rasyid Ridha (1864-1935 M). 

A. Jamaluddin Al-Afghani 
Jamaluddin Al-Afghani dilahirkan di Afganistan tepatnya di As’ad Abad salah satu kawasan Zon Kunar pada tahun 1254 H atau 1838 M. Ia sangat jenius, sehingga banyak mempelajari buku-buku Islam dan filsafat. Berbagai ilmu telah dipelajarinya; filsafat, hukum, astronomi, sejarah kedokteran, matematika, methafisika. Kejeniusannya menghantarkan Jamaluddin menguasai enam bahasa (Arab, Inggris, Perancis, Turki, Persia dan Rusia). 

Jamaluddin Al-afghani adalah perintis modernisme Islam, khususnya aktivisme anti imperialis. Dia terkenal karena kehidupan dan pemikirannya yang luas, dan juga menganjurkan dan mempertahankan, bahwa persatuan pan-Islam merupakan sarana untuk memperkuat dunia Muslim menghadapi barat. Afghani lahir di Iran dan berpendidikan Syi’ah, bukan Sunni yang sering diakuinya. 

Beliau merupakan salah satu tokoh yang pertama kali menyatakan kembali ke tradisi Muslim dengan cara yang sesuai dengan berbagai problem penting yang muncul akibat Barat semakin mengusik Timur Tengah di abad XIX. Dengan menolak tradisionalisme murni yang mempertahankan warisan Islam secara tidak kritis di satu pihak, dan peniruan membabi buta terhadap Barat di lain pihak, Afghani menjadi perintis penafsiran modern, seperti penggunaan akal, aktivisme politik, serta kekuatan militer dan politik. 

Sebagai modernis Islam pertama, yang pengaruhnya dirasakan di beberapa negara, Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan westernisasi murni. Meski afghani di kemudian hari, dan sejak meninggalnya, diakitkan dengan pan-Islam, tulisan pan-Islamnya hanya menjadi bagian dari dasawarsa penting tahun 1880-an. Dalam hidupnya dia mempromosikan sudut pandang yang saling bertentangan. Dan pikirannya juga memiliki afinitas dengan berbagai kecenderungan di dunia Muslim. Ini meliputi liberalisme Islam yang diserukan oleh Muhammad ‘Abduh, orang Mesir yang menjadi muridnya; kebangkitan Islam konservatif yang diajukan oleh berbagai bentuk oleh pengikuit ‘Abduh yang bernama Rasyid Ridha, oleh Ikhwanul Muslimun, dan oleh berbagai gerakan Islam kontemporer; dan juga pan-Arabisme dan bentuk lain nasionalisme. 

Setelah melanjutkan pendidikannya di Kota Suci Syi’ah, Karbala dan Najaf, ia pergi ke India pada usia akhir belasan tahunnya, sekitar pada masa pemberontakan India pada 1857. Kata-katanya yang paling direkam dalam sejarah pada 1860-an sampai meninggalnya, tema yang paling konsisten dalam hidupnya ialah memusuhi pemerintahan Inggris di bumi kaum Muslimin. Ini karena merupakan reaksi dari kebijakan pemerintahan Inggris di India yang bermaksud merongrong Islam dan memperkuat Kristen. Dan ternyata rupanya kontak pertama Afghani terhadap pemikiran Barat terjadi di India. 

Modernis dialamatkan kepada Jamaludiin karena seringnya bergesekkan dengan peradaban Barat yang modern, pemikiran-pemikirannya rasional mendambakan Islam berkembang tidak kalah dengan Barat. Islam harus juga memperhatikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, Jamaluddian menggunakan metode konstruktif Reformisme dengan mengembalikan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Itulah pola dan corak berfikir Jamaludin yang modernis. Ia membangkitkan semangat umat Islam untuk melawan penjajahan dan kekuasaan absolut, mendorong umat Islam mempelajari sains dan teknologi Barat tanpa terbaratkan. 

Di Mesir Al-Afghani dapat mempengaruhi massa intelektual dengan pikiran-pikiran barat antara lain mengenai ide trias politika melalui terjemahan bahasa Arab yang berasal dari bahasa Perancis yang dilakukan oleh At-Tahthawi. Ia berhasil membentuk Partai Nasional (Al-Hizbu al-Watani) di sana dan mendengungkan Mesir untuk bangsa Mesir, memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers, dan memasukkan unsur-unsur Mesir dalam bidang militer. Al-Afghani berusaha menumbangkan penguasa Mesir Khadewi Ismail dan menggantikannya dengan putera mahkota, Tawfiq yang ingin mengadakan pembaharuan di Mesir. Tetapi setelah Tauwfik berkuasa, ia tidak dapat melaksanakan programnya, bahkan penguasa baru yang didukung oleh Al-Afghani itu mengusirnya karena tekanan dari pihak Inggris, tahun 1879. 

Afghani di awal tahun 1880-an terkenal karena sikap keberagamaanya yang kuat atau bisa dikatakan sangat religius. Kemudian kenapa pada awal 1880-an Afghani mau menampilkan diri untuk pertama kalinya sebagai pembela besar Islam, dan kemudian pembela besar pan-Islam? Barangkali dia mendapat pengaruh dari sebagian kecenderungan yang juga telah mengubah tokoh lain, seperti Namik Kemal dari ‘Utsmaniyah menjadi pembela Islam. 

Afghani adalah pencetus paling penting kecenderungan untuk mengubah Islam dari kepercayaan keagamaan (dengan elemen kendali sosial dipegang oleh ulama dan pihak yang berkuasa) menjadi ideologi politik-agama yang menekankan sasaran yang secara tradisional dianggap tidak religius. 

Seperti sudah disebutkan bahwa Afghani menyuarakan gagasan, antara lain seperti pan-Islam reformis, yang pertama kali dikemukakan oleh ‘Utsmaniyah Muda, namun ‘Utsmaniyah Muda ini sangat kurang pengaruhnya di kalangan bangsa yang bahasanya bukan Turki. Pengaruh utama Afghani disebabkan oleh dua orang, yaitu dua muridnya yang orang Mesir, Muhammad ‘Abduh dan pengikut ‘Abduh, Rasyid Ridha. 

Al-Afghani menginginkan adanya persatuan umat Islam baik yang sudah merdeka maupun masih jajahan. Gagasannya ini terkenal dengan Pan Islamisme. Ide besar ini menghendaki terjalinnya kerjasama antara negara-negara Islam dalam masalah keagamaan, kerjasama antara kepala negara Islam. Kerjasama itu menuntut adanya rasa tanggungjawab bersama dari tiap negara terhadap umat Islam dimana saja mereka berada, dan menumbuhkan keinginan hidup bersama dalam suatu komunitas serta mewujudkan kesejahteraan umat Islam.

Ide Islah maksudnya adalah untuk perbaikan atau perubahan terencana ke arah yang lebih baik demi kemajuan Islam. Ide-ide gerakan “Islah” yang dikumandangkan Jamaladdin Al-Afghani adalah sebagai berikut : 
1. Mengembalikan kecemerlangan umat Islam yaitu kembali pada ajaran yang benar.

2. Membina perpaduan, persatuan dan kesatuan tanpa memandang bangsa dan negara serta budaya melalui gagasannya Jami’ah Islamiyah (Pan-Islamisme).

3. Mengkritik taklid ‘ama yaitu mengikuti segala sesuatu secara membabi buta. Sebenarnya ide “Ishlah”, pembaharuan atau reformasi tersebut bermuara pada kebangkitan umat Islam dari keterpurukan penetrasi Barat terhadap dunia Timur. 

Ide dan gagasan pembentukan “Al-Jami’ah Al-Islamiyah” atau “Pan-Islamisme” dikemukakan setelah Jamaluddin mendapatkan tempat layak dari Sultan Abdul Hamid di Istambul turki. Pan-Islamisme diharapkan bergabungnya kekuatan-kekuatan negara Timur yang terdiri dari, Persia, Afghanistan, dan Turki serta wilayah-wilayah yang ada di bawahannya dengan semacam persatuan dan perjanjian. 

Gagasan besar Jamaludin Al-Afghani terkenal dengan PAN-ISLAMISME ( Al-Jami’ah Al-Islamiyah ; persatuan dan kesatuan dunia Islam). Tujuan akhirnya adalah menyatukan negara-negara Islam dalam satu komando kepemimpinan yang mampu menghalau campur tangan Eropa dan mewujudkan kembaIi kejayaan Islam. Perjuangannya bertujuan membangun sistem politik berdasarkan persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) yang telah berantakan di tangan penjajah. 

Dalam buku Mohammedanism; An Historical Survey: He was the founder and inspiration of the Pan-Islamic movement, which sought to unite all Muslim peoples under the Ottoman Caliphate; and though he failed in this, his supreme objective, his influence lives on in the more recent popular movements which combine Islamic fundamentalism with an activist political programme. (Dia adalah pendiri dan inspirasi dari gerakan Pan-Islam, yang berusaha untuk menyatukan semua bangsa-bangsa Muslim di bawah Kekhalifahan Ottoman, dan meskipun ia gagal dalam hal ini, itu tujuan tertinggi, pengaruhnya hidup dalam gerakan rakyat yang lebih baru yang menggabungkan fundamentalisme Islam dengan program aktivis politik).

Pengalaman yang diserap Al-Afghani selama lawatannya ke Barat menumbuhkan semangatnya untuk mamajukan umat. Barat yang diperankan oleh Inggris dan Prancis mulai hendak menancapkan dominasi politiknya di dunia Islam, maka pasti akan berhadapan dengan Al-afghani. Adanya anggapan dasar yang dipegang oleh Al-Afghani menghadapi Barat seperti diungkapkan L. Stoddard yakni : 

1. Dunia Kristen sekalipun mereka berbeda dalam keturunan, kebangsaan, tetapi apabila menghadapi dunia Timur (Islam) mereka bersatu untuk menghancurkannya.

2. Semangat perang Salib masih tetap berkobar, orang Kristen masih menaruh dendam. Ini terbukti umat Islam diperlakukan secara diskriminatif dengan orang Kristen.

3. Negara-negara Kristen membela agamanya. Mereka memandang Negara Islam lemah, terbelakang dan biadab. Mereka selalu berusaha menghancurkan dan menghalangi kemajuan Islam.

4. Kebencian terhadap umat Islam bukan hanya sebagain mereka, tetapi seluruhnya. Mereka terus-menerus bersembunyi dan berusaha menyembunyikannya. 

5. Perasaan dan aspirasi umat Islam diejek dan difitnah oleh mereka. Istilah nasionalisme dan patriotosme di Barat, di Timur disebut fanatisme. 

Menurut Al-Afghani, hal-hal tersebut di atas menuntut adanya persatuan umat Islam untuk menghadapui dunia Barat dan mempertahankanya dari keruntuhan. Disamping itu Al-Afghani melihat bahwa kondisi umat Islam sendiri memang berada dalam kemunduran yang mengkhawatirkan. Kemunduran tersebut menurutnya bukan karena ajaran Islam, tetapi oleh umat itu sendiri yang yang tidak berupaya mengubah nasibnya. Perpecahan terjadi di kalangan mereka maka pemerintahan menjadi absolut, pemimpin tidak dapat dipercaya, lemah dalam bidang militer dan ekonomi bersamaan dengan datangnya intervensi asing. Menghadapi paham fatalisme, Al-Afghani mengajak umat Islam merebut peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahun Barat yang positif dan sesuai ajaran Islam. Dengan demikian, umat Islam akan dinamis dan tidak menerima apa adanya serta menyerukan bahwa pintu ijtihad tidak tertutup. Ia selanjutnya menegaskan bahwa dalam Islam ada kemerdekaan dan kedaulatan umat. pemerintah dapat saja dikritik dan tidak berkuasa mutlak. Al-Afghani mengajak umat, pemimpin dan kelompok agar bersatu dan bekejasama dalam meraih kemajuan dan membebaskan diri dari itervensi Barat. Untuk tujuan di atas, Al-Afghani mencetuskan ide Pan Islamisme. Semangat ini dikobarkan ke seluruh negeri Islam yang tengah berada dalam kemunduran dan dominasi Barat. Pan Islamisme (Al-jami’iyyah Al-Islamiyyah) ialah rasa solidaritas seluruh umat Islam. Solidaristas sepeti itu sudah ada dan diajarkan sejak Nabi SAW, baik dalam menghadapi kafir Quraisy ataupun dalam kegiatan-kegiatan sebagai upaya menciptakan kesejahteraan umat. 

Semangat pan Islamisme yang diserukan Al-Afghani memberikan pengaruah besar di kalangan umat terutama bagi para pemimpinnya. Hal ini kemudian menyadarkan mereka akan besarnya ancaman Barat. Sultan Abdul Hamid dari Kerajaan Turki Usmani misalnya menyambut dengan penuh antusias. Ia mendirikan organisai seruan Pan-Islamisme mengutus banyak orang ke berbagai negeri Islam dengan pesan agar umat Islam bersatu dan meleaskan diri dari pemerintahan Barat. Hal ini dilakukan oleh Sultan selama 30 tahun. 

Seruan Pan-Islamisme menghasilkan pengaruh yang sangat besar dan mendalam. Di berbagai negeri muslim telah lahir tokoh-tokoh di kalangan umat yang berjuang menuntut kemerdekaan dari penjajah Barat, seperti Abdul Hamid di Turki, Muhamamd Abduh dan Saad Zaghlul di Mesir serta torkoh lainnya. 

B. Muhammad ‘Abduh 
‘Abduh adalah orang Mesir pertama yang menunjukkan keterbelakangan masyarakat Mesir dan fakta bahwa masyarakat Mesir telah kehilangan kapasitas untuk untuk memperbarui dirinya. Problem sosial-politik Mesir, katanya, terjadi karena warisannya sendiri yang telah membuat Mesir tidak mampu menanggapi tantangan zaman. Menurutnya, kelemahan kaum muslim disebabkan oleh perpecahan internal umat, tercabangduanya kekhalifahan, dan terpecahnya umat Muslim menjadi bangsa-bangsa kecil yang beragam sekte dan keyakinannya yang saling bertikai demi kesetiaan kepada pemimpin. Katanya, ajaran Islam menunjukkan bahwa nasib yang menimpa kaum Muslim merupakan cobaan dari Tuhan, hukuman atas ketidaktaatan. Kemunduran masyarakat Muslim merupakan hukuman yang dijanjikan dalam Al-Qur’an. Juga disebabkan oleh kebodohan dan salah memahami iman, dan karena perpecahan sektarian, karena tertutupnya pintu ijtihad, dan karena kekeliruan kebijakan pemimpin Islam.Dia menegaskan untuk memulai pembaruan, kita perlu kembali kepada pokok-pokok iman yang dipandang sebagai Islam yang sebenarnya oleh berbagai mazhab, berbagai kelompok. Dia menyerukan agar menggunakan tradisi yang terbaik, dan agar taklid buta dikutuk, karena merintangi kemajuan. 

Perhatian utama ‘Abduh adalah problem kemunduran umat Islam. Ia mengatakan, keunggulan Barat terjadi karena Barat mengambil yang terbaik dari Islam untuk dirinya sendiri. Kaum muslim kedudukannya rendah, karena mereka telah meninggalkan Islam yang sejati. Begitu kaum Muslim mendapatkan kembali semangat yang pernah dimilikinya dahulu, yang membuat mereka tampil di pentas dunia dan membangun peradaban besar, maka mereka akan mempu meraih kembali posisi unggul mereka. 

Bagi ‘Abduh, persoalannya bukanlah apakah mungkin menjadi Muslim sambil tetap menerima dunia modern. Tapi apakah Islam relevan dengan modernitas atau tidak. Karena itu, dia ingin membuktikan bahwa Islam memang merupakan agama yang rasional, yang dapat menjadi basis kehidupan di dunia modern. Menurutnya, tak ada konflik antara Islam dan prinsip peradaban modern. Katanya, Islam memang harus meluruskan peradaban modern, dan membersihkannya dari nodanya. Bila peradaban modern mengenal Islam sejati, maka Islamakan jadi pembela gigih, dan sumber kekuatannya. Kekakuan akan sirna, dan bukti terkuatny adalah bahwa Al-Qur’an tetap bertahan sebagai saksi kebenaran Islam. 

Teologi Rasionalisme yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh ini berisi tentang bagaimana ia memandang tentang Tuhan, agama, kitab suci, Nabi-Nabinya serta penciptaan seluruh makhluk Tuhan. Muhammad Abduh membagi alam ini menjadi dua, yakni alam wujud dan alam abstrak. Alam wujud adalah alam dimana kita tinggal sekarang ini dan alam abstrak adalah alam akhirat yang akan kita tempati setelah meninggal nanti. Teologi menurut pandangan Muhammad Abduh dapat digambarkan sebagai Tuhan berada di puncak alam wujud dan manusia ada di dasarnya. Manusia yang berada di dasar ini berusaha mengetahui Tuhannya dan Tuhan menurunkan wahyu karena kasihan melihat kelemahan manusia dibandingkan kemahakuasaan-Nya. Manusia yang dimaksud oleh Muhammad Abduh di sini adalah kamu Khawas yakni orang-orang yang terpilih dari golongan awam. Hal ini dikarenakan kemampuan akal yang dimiliki orang Khawas yang mampu mencapai Tuhan serta alam ghaib yang berada pada puncak tertinggi dari alam wujud. 

Untuk mencapai pengetahuan tertinggi ini bisa melalui 2 cara, akal dan wahyu. Akal bagi Muhammad Abduh adalah tonggak kehidupan manusia dan dasar dari kelangsungan hidupnya karena ialah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Karena itu, beliau selalu berbicara tentang pentingnya akal dan pentingnya manusia mengembangkan akalnya untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Begitu pun dalam masalah teologi. Ia tidak pernah meninggalkan akal sebagai dasar dari teologi. Muhammad Abduh berpendapat bahwa Islam adalah agama yang rasional, agama yang sejalan dengan akal, bahkan didasarkan pada akal. Beliau sangat menekankan pentingnya memahami ayat dengan menggunakan akal. Menurutnya, pemikiran rasional adalah jalan untuk mendapatkan keimanan yang sejati. Keimanan bukan didasarkan pada pendapat semata, namun harus berdasar pada pemahaman. Akal yang dapat membawa manusia memahami apa yang sebenarnya disampaikan oleh Tuhan melalui agama dan wahyu. Agama memang membawa sesuatu yang berada diluar kemampuan manusia untuk memahaminya, namun, agama tidak mungkin membawa sesuatu yang mustahil dipahami oleh akal manusia. Jika memang agama mambawa sesuatu yang secara lahiriah terlihat bertentangan dengan nalar, akal harus meyakini bahwa yang dimaksud bukan arti harfiah melainkan ada maksud lain yang dibawa. 

‘Abduh selalu menekankan dan memperhatikan realitas manusia, dan bagaimana memperbaikinya, ketimbang memperhatikan filsafat abstrak atau bahkan argumentasi teologis. Dia tak seperti teologi Asy’ariah, mengatakan bahwa manusia dengan menggunakan akalnya dapat mengetahui dan memilih mana yang benar dan mana yang salah. Dalam dua karya besarnya, Risalah At-Tauhid dan Al-Islam Wannshraniyah ma’al’ilm Walmadaniyah, dia mencoba menyelaraskan akal, wahyu dan temperamen moral individu, namun pada akhirnya jelaslah akal yang ditentukan. Jika terjadi perselisihan antara akal dan apa yang diriwayatkan hadis, maka akallah yang harus didahulukan. Hadis diinterpretasikan kembali, agar sesuai dengan yang rasional, atau mengakui kebenarannya, seraya mengakui ketidakmampuan manusia untuk mengetahui maksud Allah. Akibat terus menerus menekankan penggunaan akal, ‘Abduh dituduh sebagai seorang noe-Mu’tazilah oleh faqih konservatif. Karena dia mencoba mengakui kekuatan akal dan pilihan bebas manusia dan takdir Allah dengan mengatakan bahwa ada hal-hal yang hanya Allah sajalah yang tahu. 

Salah satu isu paling penting yang menjadi perhatian ‘Abduh sepanjang hayat dan karirnya adalah pembaruan pendidikan. Program yang diajukannya sebagai salah satu fondasi utama adalah memahami dan menggunakan Islam dengan benar untuk mewujudkan kebangkitan masyarakat. Dia mengkritik sekolah modern yang didirikan oleh misionaris asing, dan juga mengkritik sekolah modern yang didirikan oleh pemerintah. Di sekolah misionaris, siswa dipaksa mempelajari Kristen, sedangkan di sekolah pemerintah, sisiwa tidak diajar agama sama sekali. 

‘Abduh memperjuangkan sistem pendidikan fungsional yang bukan impor, yang mencakup pendidikan universal bagi semua anak. Semuanya harus punya keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Semuanya harus mendapat pendidikan agama. Isi dan lama pendidikan haruslah beragam, sesuai dengan tujuan dan profesi yang dikehendaki pelajar. 

Muhammad Abduh membagi pendidikan menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat dasar (mubtadi’in), tingkat menengah (taqabat Al Wustha), dan tingkat tinggi (taqabat Al Ulya). Pembagian pendidikan ini berdasarkan tujuan dan tempat bekerja para pelajar. Pengklasifikasian ini juga didasarkan pada tingkat ketinggian akal seseorang. Hal ini dikarenakan dalam pemikiran teologi Muhammad Abduh yang sudah saya disampaikan sebelumnya, manusia tidak lagi digolongkan sesuai dengan ketakwaannya, melainkan tingkat akal mereka. 

Untuk tingkat dasar, pendidikan ditujukan kepada orang-orang yang nantinya akan mengabdikan dirinya untuk menjadi tukang, pedagang, petani, dan pekerjaan lain yang setara dengan mereka. Kurikulum yang akan diterapkan di sini pun adalah yang paling ringan. Tingkat pertama bertujuan untuk memerangi buta huruf, maka di sini lebih ditekankan ilmu membaca, menulis, dan berhitung. Namun, tidak hanya itu. Di sini juga diajarkan mata pelajaran lain, yakni Akidah Islam, Fiqh dan Akhlak, dan Sejarah. 

Tingkat Menengah ditujukan bagi orang-orang yang nantinya akan menjadi pegawai pemerintah baik sipil atau militer. Bermula pada keprihatinannya terhadap pegawai-pegawai pemerintah pada masa itu yang hanya memikirkan dirinya tanpa peduli dengan rakyatnya, Muhammad Abduh memberikan pendidikan yang bisa membuat mereka menjadi orang-orang yang bertanggung jawawab nantinya. Dalam tingkat ini, Akidah Islam, Fiqh dan Akhlak, dan Sejarah yang juga telah diajarkan dalam tingkat dasar lebih diperluas lagi bahasannya. Selain itu, di sini juga dbeliaujarkan Ilmu logika (fann al-mantiq), dasar-dasar penalaran (usul an-nazari) dan ilmu debat atau diskusi (adab al-jadal). 

Pendidikan tinggi ditujukan untuk mereka yang akan menjadi guru dan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Kurikulum yang diajarkan di sini adalah al-Qur’an al-Karim, Hadits, Bahasa Arab, Ushul Fiqh, Pelajaran Akhlak, Sejarah Islam, Retorika dan Dasar-dasar Diskusi, dan Ilmu Kalam. Bagi Muhammad Abduh peran guru sangatlah penting dalam mempengaruhi pendidikan yang akan membentuk bangsa. Oleh karena itu, beliau menempatkan guru dalam tingkatan yang tinggi setara dengan para pemimpin dan penguasa negara. Beliau memilih Tafsir Al-Qur’an untuk diajarkan di sini karena menurutnya Al-Qur’an menyimpan rahasia kesuksesan umat terdahulu. Untuk itu, para peserta didik haruslah mempelajari hal ini. 

Selain kurikulum, Muhammad Abduh juga mengungkapkan adanya pihak-pihak yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan seseorang. Yang pertama, kepala sekolah. Menurutnya, kepala sekolah haruslah orang yang memiliki kapasitas pendidikan serta kepemimpinan yang memadai dan berkualitas. Yang kedua adalah guru. Seperti yang telah disebutkan, baginya guru adalah komponen terpenting adalam pembentukan siswa saat menjalani pendidikan. Bagaimana jenis siswa yang dihasilkan tergantung dengan bagaimana guru tersebut mengajar. Oleh karena itu, guru haruslah orang-orang yang memilki kapasitas untuk mengajar. Muhammad Abduh juga tidak melupakan unsur lain seperti orang tua murid, masyarakat dan pemerintah. Tanpa bekerjasama dengan mereka, suatu pendidikan tidak akan berhasil. 

Yang paling menjadi fokus Muhammad Abduh pada waktu itu adalah bagaimana menghapuskan adanya dualisme pendidikan yang telah ada. Sehingga, tidak ada lagi pemisahan antara pemerintah dan ilmu pengetahuannya dan Islam dengan syari’atnya. Semuanya bisa berjalan secara seragam dan harmonis. Pemerintah pun paham tentang islam dan bisa menerapkannya dalam cara mereka memerintah dan Ulama’ pun melek pengetahuan dan tidak tertinggal dari peradaban dunia. 

Dengan membawa pemikirannya yang berisi tentang sistem pendidikan baru untuk Mesir yang telah dibuatnya, Muhammad Abduh berusaha mendobrak tembok sistem pendidikan tradisional Mesir yang telah dibangun sejak Muhammad Ali berkuasa. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, beliau ingin agar ilmu-ilmu umum juga diajarkan dalam madrasah dan ilmu agama juga diajarkan dalam sekolah pemerintah. Namun, ternyata kenyataan tidak berpihak pada Muhammad Abduh. Pemikiran yang beliau bawa ditolak oleh para ulama’ karena dikhawatirkan cenderung kepada Barat. Pemikirannya yang memang cenderung ke arah pembaharuan dan modernisasi dianggap bergerak menuju pendidikan sekuler, sehingga tidak dapat diterima oleh mereka. Mereka tidak ingin ilmu-ilmu umum seperti logika masuk kepada siswa-siswanya dan merusak akhlaknya. 

Beliau juga mendapatkan tentangan dari pemerintah yang berkuasa pada masa itu, karena kurikulum agama yang ingin beliau ajarkan di sekolah pemerintah membuat mereka tidak lagi leluasa dalam berbuat maksiat. Misalnya saja tentang wakaf. Pemerintah tidak setuju dengan adanya konsep untuk mendirikan institusi wakaf yang diusung oleh Muhammad Abduh. Alasannya tentunya hanya ada satu. Jika institusi wakaf ini didirikan maka uang yang akan masuk kantong mereka berkurang. 

Sikap penolakan ini sesungguhnya merupakan hasil dari statisnya sikap masyarakat Mesir pada masa itu yang masih terjerat dalam pola pikir tradisional. Namun, hal ini bisa juga merupakan hasil dari traumatis masyarakat mengingat banyaknya negara sekitarnya yang akhirnya dipimpin secara sekuler setelah dimasuki pemikiran Barat. 

Dalam keadaan yang sangat mengecewakan tersebut, akhirnya Muhammad Abduh jatuh sakit dan meninggal dunia. Alhasil, pemikiran tentang sistem pendidikan yang dibawanya belum dan tidak pernah sempat diterapkan dalam pendidikan formal Mesir. Namun, lebih dari itu, ternyata Muhammad Abduh telah memberikan pengajaran bagi siswa-siswa yang sangat tepat. Penerusnya, seperti Rasyid Ridla dan Hasan Al-Banna adalah potret dari produk sistem pendidikan yang dibuat oleh Muhammad Abduh. Mereka yang akhirnya menjadi tokoh besar di Mesir dan dunia yang sesungguhnya menjadi bukti bagaimana hasil dari sistem pendidikan Muhammad Abduh. 

Dalam buku Mohammedanism; An Historical Survey: a man of great breadth, independence, and nobility mind. As a young teacher in Al-Azhar, he had tried to introduce a broader and more philosophical conception of religious education, and in later exile he had collaborated with Jamaluddin Al-Afghani in a semi religious, semi political journal called al-urwatul Wutsqa. He was a modernist in the sense that he urged the persuit of modern thought, confident that in the last resort it could not undermine but only confirm the religious truth of Islam.(Sebuah Survei Sejarah: seorang luas besar –pengetahuan-, kemandirian, dan pikiran bangsawan. Sebagai seorang guru muda di Al-Azhar, ia mencoba untuk memperkenalkan konsepsi yang lebih luas dan lebih filosofis pendidikan agama, dan di pengasingan kemudian ia telah bekerja sama dengan Jamaluddin Al-Afghani dalam jurnal agama, politik yang disebut al-urwatul Wutsqa. Dia adalah seorang modernis dalam arti bahwa ia mendesak pengejaran pemikiran modern, yakin bahwa di resor terakhir tidak dapat merusak tetapi hanya mengkonfirmasi kebenaran agama Islam). 

Penting bagi kita untuk memahami betapa lebarnya kesenjangan antara pendidikan agama dan pendidikan sekuler di Mesir ini berikut konsekuensi-konsekuensi yang sangat jauh jangkauannya. Hal ini tidak hanya menempatkan suatu sekolah dalam posisi berlawanan dengan sekolah lainnya dan juga suatu universitas lainnya, tetapi juga lebih daripada faktor manapun, mendorong timbulnya perpecahan di kalangan ummat Muslim, yang terutama tampak di kota-kota besar, yang menempatkan kelompok ortodoks dalam posisi berlawanan dengan kelompok yang diibaratkan dalam hampir kegiatan sosial maupun intelektual, dalam cara berpakaian, sikap hidup, kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat, hiburan, sastra dan bahkan dalampercakapan mereka. Kenyataan tentang adanya kesenjangan dan perlunya diakhiri kesenjangan inilah yang mendorong timbulnya modernisme Islam itu. 

Dari pembahasan mengenai “Teologi Rasionalisme serta Pengaruhnya terhadap Modernisasi Pendidikan Mesir yang dibawa oleh Muhammad Abduh” dapat kita simpulkan bahwa Muhammad Abduh adalah seseorang yang memang tepat jika dijuluki sebagai tokoh pembaharu Mesir. Beliau berani mendobrak sistem tradisional yang pada waktu itu sudah kuat mengakar dalam masyarakat Mesir. Lebih dari itu, beliau berhasil memberikan warna baru dalam dunia pemikiran dan pendidikan di Mesir yang pada masa itu masih sangat tradisional dengan menerapkan metode diskusi dalam proses pembelajarannya dan memperkenalkan pentingnya akal serta pemahaman dari setiap apa yang dipelajari. Beliau memang tidak pernah menelurkan buku tentang pemikiran rasionalisme, namun, beliau adalah rasionalis sejati. 

C. Rasyid Ridha 
Sosok intelektual satu ini bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Bahauddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli,Lebanon)pada 27Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan tahun 1865 M. 

Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. 

Rasyid Ridha adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern. 

Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris). Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu. Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh ke Beirut, Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya. Rasyid ridha meyakini kebenaran gerakan Salafiyah yang dipelopori oleh Afghani dan Abduh, dan menariknya sedikit demi sedikit dari ajaran tasawuf tradisional. 

Salafiyah adalah suatu aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama, yang biasa juga disebut salaf (pendahulu) yang saleh. 

Di Lebanon, Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya. Namun, upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaharuan yang dilontarkannya. Akibat semakin besarnya tentangan itu, akhirnya pada 1898, Rasyid Ridha pindah ke Mesir mengikuti gurunya, Muhammad Abduh, yang telah lama tinggal di sana. 

Al-Manar adalah majalah mingguan yang diasuh oleh Ridha dan abduh. Antara lain, menyebarkan ide-ide pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, memajukan umat Islam dan menjernihkan ajaran Islam dari segala paham yang menyimpang, serta membangkitkan semangat persatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai intervensi dari luar. Dalam perjalanannya majalah ini banyak mendapat sambutan, karena ide-ide pembaharuan yang dilontarkan dalam setiap tulisannya. 

Setelah menerbitkan majalah Al-Manar, Rasyid Ridha juga masih sangat aktif menulis dan mengarang berbagai buku dan kitab. Dia sempat mengajukan saran kepada gurunya agar menafsirkan kitab suci Alquran dengan penafsiran yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui kuliah tafsir yang rutin dilakukan di Universitas Al-Azhar, Rasyid Ridha selalu mencatat ide-ide pembaharuan yang muncul dalam kuliah yang diberikan Muhammad Abduh. Selanjutnya, catatan-catatan itu disusun secara sistematis dan diserahkan kepada sang guru untuk diperiksa kembali. Selesai diperiksa dan mendapat pengesahan, barulah tulisan itu diterbitkan dalam majalah Al-Manar. Kumpulan tulisan mengenai tafsir yang termuat dalam majalah Al-Manar inilah yang kemudian dibukukan menjadi tafsir Al-Manar. Pengajaran tafsir yang dilakukan Muhammad Abduh ini hanya sampai pada surah An-Nisa ayat 125, dan merupakan jilid ketiga dari seluruh Tafsir Al-Manar. Hal ini dikarenakan Muhammad Abduh telah dipanggil kehadirat Allah SWT pada 1905, sebelum menyelesaikan penafsiran seluruh isi Alquran. Maka, untuk melengkapi tafsir tersebut, Rasyid Ridha melanjutkan kajian tafsir sang guru hingga selesai. 

Karya-karya yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Antara lain, Tarikh Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh), Nida Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW), Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri Al-Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum Islam), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar), Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif), Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad saw),dan haquq al-mar’ah as-shalihah (hak-hak wanita muslimah). 

D. Murid-murid Muhammad ‘Abduh 
1. Qasim Amin 
Qasim Amin adalah seorang ahli hukum yang belajar di prancis dan mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Muhammad Abduh, sehingga beliau di katakan murid dan pengikut Muhammad Abduh karena sempat bergaul dan belajar bersama. Di sini terdapat perbedaan antara guru dan murid, Muhammad Abduh masih terikat pada masa lampau dan memandang peradaban islam di zaman klasik sebagai contoh yang harus ditiru, sedangkan Qasim Amin telah mulai melepaskan diri dari ikatan masa lampau dan lebih banyak menoleh ke masa depan. Di sanalah terletak peradaban islam baru yang dasarnya berbeda dengan dasar peradaban islam klasik. Kalau Rasyid Rida tidak seliberal guru. Qasim Amin sebaliknya melampaui guru dalam keliberalan. Pemikiran Qasim Amin salah satunya ialah mengenai kedudukan wanita, ide inilah yang di kupas Qasim Amin dalam bukunya Tahrir Al-Mar’ah (”Emansipasi Wanita). Menurut pendapatnya, umat islam mundur karena kaum wanita, yang di mesir merupakan setengah dari pendududk , tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah. Pendidikan wanita perlu, bukan hanya agar mereka dapat mengatur rumah tangga dengan baik, tetapi lebih dari itu untuk dapat memberikan didikan dasar bagi anak-anak. Ia menantang pilihan sepihak, yaitu dari pihak pria dalam soal perkawinan, menurut pendapatnya, wanita harus di beri hak yang sama dengan pria dalam memilih jodoh. Oleh karena itu ia menuntut supaya istri diberi hak cerai, sungguhpun poligami di sebut dalam Al-Qur’an ia berpendapat bahwa islam pada hakikatnya menganjurkan monogami. Ide Qasim Amin yang banyak menimbulkan reaksi di zamannya ialah pendapat bahwa penutupan wajah wanita dan pemisahan wanita dalam pergaulan bukanlah Ajaran Islam karna tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Menurut pendapatnyapenutupan wajah dan pemisahan wanita membawa kepada kedudukan rendah dan menghambat kebebasan dan pengembangan daya-daya mereka untuk mencapai kesempurnaan. Dari berbagai pihak berdatangan kritik dan protes terhadap ide-ide yang di kemukakan Qasim Amin itu sehingga ia melihat perlu memberi jawaban yang keluar dalam bentuk buku bernama Al-Mar’ah Al-Jadidah (”wanita modern”) dalam buku itu ia lebih kuat lagi mempertahankan kebebasan wanita. Barat memang telah mencapai peradaban yang tinggi, dan ini di dasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan. Peradaban yang didirikan umat islam di zaman klasik tidak di dasarkan atas ilmu pengetahuan yang telah berkembang, karena ilmu pengetahuan modern belum lahir di waktu itu. Menurutnya peradaban islam yang lampau itu tidak dapat lagi dipakai sebagai model, untuk kemajuan umat islam seharusnya jangan lagi menoleh ke belakang, tetapi ke depan dengan menempuh jalan yang telah di tempuh barat yaitu ilmu pengetahuan modern 

2. Muhammad Farid Wajdi 
Muhammad Farid Wajdi adalah seseorang yang banyak membaca dan banyak mengarang untuk membela islam terhadap serangan-serangan dari luar, salah satu bukunya bernama Al-Madaniah Wa Al-Islam (”peradaban modern dan islam”) dan di dalamnya ia menjelaskan bahwa orang barat menilai islam dari praktek-praktek umat islam yang berada di bawah kekuasan mereka. Dalam buku itu ia mencoba menjelaskan islam yang senenarya, islam yang tidak bertentangan dengan peradaban modern. Menurut pendapatnya ”tidak satu pun dari dasar-dasar dan teori-teori ilmiah yang membawa kepada kemajuan umat manusia seperti, trdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits sendiri”, kenyataan ini menjadi argumen kuat untuk membuktikan kebenaran islam. Dan ia juga brpendapat bahwa islam sejati adalah yang sesuai dengan peradaban. Farid Wajli juga mengarang ensiklopedia yang bernama ”Dairah Al-Ma’arif Al-Qur’an Al-Isyrin dan tersusun dari sepuluh jilid. Menurut keterangan buku itu ia karang tanpa bantuan orang lain. Ensiklopedi ini banyak mengandung ide-ide modern. 

3. Syaikh Tantawi Jauhari 
Syaikh Tantawi Jauhari adalah Murid Muhammad Abduh yang menonojolkan ajarannya tentang Sunatullah. Guru banyak menyebutkn Sunatullah yang tidak berubah-ubah, hukum alam yang diciptkan tuhan dan yang harus di patuhi alam dalam peredarannya. Oleh karena itu Syaikh Tantawi Jauhari banyak menulis tentang ilmu bintang dan ilmu alam dalam buku-buku Al-Jaj Al- Murassa ’bi Jawahir Al-Qur’an Al ulum (”mahkota yang dihiasi dengan permata-mata Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan”) Jamal al-’lam (”keindahan alam”), dan Al-Nizam Wa al-’alam (”peraturan dan alam”). 

4. Ahmad Lutfi Al-Sayyid 
Seperti Muhammad Abduh dan Sa’ad Zaqlul, ia berasal dari daerah pedesaan Mesir tetapi setelah memasuki Madrasah tradisional pindah ke kairo untuk belajar pada sekolah Modern. Pada tahun 1889 ia meneruskan pelajaran pada Perguruan Tinggi Hukum. Di Kairo ia masuk ke dalam lingkungan teman dan murid Muhammad Abduh, ia banyak membaca buku karangan filosof-filosof barat. Ide-ide Lutfi Sayyid ialah tentang ide kemerdekaan dan kebebasan. Kebebasannya ialah dalam berfikir dan kemerdekaan dalam hidup kemasyarakatan dari ikatan-ikatan politik yang berlebih-lebihan. Negara yang menjadi idamannya ialah Negara yang bercorak Liberal, sedangkan Negara yang menjadi pimpinan oleh seorang rasa yang Absolut ia tantang, karena menurut pendapatnya kemerdekaan individu erat hubungannya dengan kemerdekaan Negara. Lutfi Sayyid juga menganut paham Nasionalisme, dan Nasionalismenya ialah Nasionalisme Mesir. 

5. Taha Husain 
Taha Husain berasal dari keluarga petani yang dimasa kecilnya mendapat penyakit yang membuat ia kehilangan penglihatannya. Setelah lulus dari madrasah ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar. Di sinilah ia bertemu dengan ide-ide Muhammad Abduh dan murid-muridnya, terutama Lutfi Sayyid. Selanjutnya ia belajar bahasa prancis, mengikuti kuliah di Universita Kairo dan kemudian pergi ke Paris. Di sana ia belajar selama empat tahun dan kawin dengan putri prancis. Setelah itu pada tahun 1919 ia kembali ke Kairoh dan bekerja sebagai Dosen di Universitas Kairoh dan Universitas Alexandria. Ia banyak mengarang terutama bidang Sastra Arab. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari Sastra Arab Jahiliah. Taha Husain mendapat tantangan keras dan kritik, karenaide itu menghancurkan dasar keyakinan pada keorisinilan syair jahiliah. Ia ingin supaya Mesir maju dan modernseperti Eropa. Ia berpendapat bahwa untuk itu Mesir mesti mengikuti jejak Eropa. Taha Husain juga menganut Paham Nasionalisne Mesir, ia beserta murid-murid Muhammad Abduh lainnya tidak melepaskan diri dari ikatan Agama. 

6. Ali Abd Al-Raziq 
Ali Abd Al-Rariq adalah putra dari seorang sahabat Muhammah Abduh tetapikarena masih kecil ia tidak sempat menjadi muridnya, setelah selesai dari Al-Azhar ia meneruskan studi di Oxford. Persoalan di zaman Ali Abd Al-Raziq ialah tentang khalifah yang telah di hapuskan Mustafa Kamal pada tahun 1924. Dan persoalan ini menimbulkan kehebohan di dunia islam, karena mereka menganggap sistem Khalifah merupakn ajaran daar dan penghapusannya bertentangan dengan Ilam. Ali Abd Al-Raziq berpendapat lain yang ia jelaskan dalam buku ”Al-Islam Wa Al-Hukm” (islam dan ketatanegaraan), menurut pendapatnya sistem pmerintahan tidak di singgung-singgung oleh Al-Qur’an dan Hadits. Pendapat liberal yang dikemukakan oleh Ali Abd Al-Raziq ini mendapat kritik dan tantangan kerasdari berbagai golongan umat islam yang ada pada aktu itu, termasuk Rasyid Rida seoang murid terdekat Muhamamad Abduh yang mana beliau mempertahankan sistem khalifah dan memandang pendapat Ali Abd Al-Raziq itu akan memperlemah umat islam, selain itu juga Ali Abd Al-Raziq mendapat tantangan keras yang datang dari Al-Azhar, mereka menganggap buku itu mengandung pendapat yang bertentangan denagn ajaran islam. Sehingga Ali Abd Al-Raziq tidak dapat di akui sebagai seorang ulama, dan namanya dihapus dari daftar Al-Azhar, selanjutnya ia di pecat pula dari jabatan hakim agama yang dipegangnya. Syaikh ‘Ali Abdu Roziq, seorang murid ‘Abduh ketika pada tahun1925 menerbitkan sebuah buku yang menganjurkan penghapusan jabatan khalifah dan dipisahkannya persoalan-persoalan kemasyarakatan dari aturan-aturan agama, dia dipersalahkan sebagai orang yang melanggar ajaran Islam otdodoks berdasarkan keputusan bulat yang diambil oleh Dewan ‘Ulama Al-Azhar, dipecat dari jabatannya sebagai dosen Al-Azhar dan dinyatakan tidak berhak memangu jabatan keagamaan apapun. Pada tahun 1930, seorang Syaikh lainnya yaitu Muhammad Abu Zaid menerbitkan sebuah kitab al-Qur’an dengan dibubuhi anotasi-anotasi, yang isinya mengkritik kitab-kitab tafsir al-Qur’an lama dan menafsirkan ayat-ayat tentang alam adi-kodrati(superanatural) dengan cara-cara naturalis sederhana. Walaupun tujuan diterbitkannya kitab itu adalah mendorong generasi muda agar mereka mau mempelajari al-Qur’an, kitab itu disita polisi dan sebuah surat perintah dikeluarkan berisi larangan kepada penulisnya untuk menjadi khatib (muballigh) atau menyelenggarakan pertemuan-pertemuan keagamaan. 

7. Sa’ad Zaglul 
Sa’ad Zaglul seorang yang dikenal dengan Bapak kemewrdekaan Mesir. Ia adlah sama dengan Muhammad Abduh, beraal dari lingkungan desa yang belum kenal pada Sekolah Modern. Pendidikan pertamanya di Madraah tradisional dan pada tahun 1871 ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar dan menjadi murid jamaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh, bahkan ia turut serta dan pernah ditangkap bersama gurunya pada waktu menjalankan kegitan politik. Sa’ad Zaglul pernah bekerja sebagai Pengacara dan Hakim. Maka untuk memperdalam pengetahuannya tentang Hukum Barat ia memasuki ”Perguruan Tinggi Hukum Prancis” di Kairo, namanya mulai di kenal pada tahun 1896, ia kawin dengan Putri Perdana Menteri yang ada pada waktu itu. Tujuan politik Sa’ad Zaglul ialah mewujudkan ide gurunya, yaitu membatai kekuasaan otokrasi khedewi (sultan) Mesir dan melepaskan Mesir dari kekuaaan Inggris. Sasaran politik utama Sa’ad Zaglul bukan lagi pemerintahan khedewi, tetapi kekuaan Inggris di Mesir. Tujuan utamanya ialah kemardekaan Mesir. Dan pada tahun 1922 Mesir memperoleh kemerdekaannya. Paham Nasionalisme Sa’ad Zaglul sesuai dengan pendapat Al-Tahtawi dan Muhammad Abduh, mengambil tanah air sebagai dasar, yang di perjuangkan ialh Nasionalisme Mesir dan bukan Nasionalisme Arab. Untuk kemajuan Mesir, pembaharuan dalam pendidikan dan bidang Hukum perlu diadakan. Pendidikan Mesti terbuka bagi semua orang, termasuk fakir miskin, jumlah sekolah ia perbanyak, dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar secara berangsur ia tukar dengan Bahasa Arab. Dalam Bidang Politik ia dirikan ”Perguruan Tinggi Hakim Agama”. Tujuannya untu memberikan pendidikan Modern bagi calon-calon Hakim Agama. Sebagaimana gurunya, ia juga menentang pemerintahan Absolut dan ia menghendaki pemerintahan Demokrasi, yang harus beruasaha mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, baik Islam maupun non Islam. 

DAFTAR PUSTAKA 

Abdurrahman, Moeslim, Islam Transpormatif, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995 

Gibb, H. A. R. Aliran-Aliran Modern dalam Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996, Cet. VI
 ------------------ Mohammedanism; An Historical Survey, New York: Oxford University Press, 1966, Sixht Printing. 

Nasution, Harun, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998) Masyhur, Kahar. Pemikiran dan Modernisme dalam Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 1989. 

Rahnema, Ali (editor). Para Perintis Zaman Baru Islam, Bandung: Mizan, 1996, Cet. II Yasmansyah, Muhammad Abduh dan Usaha pembaharuan Pendidikan Mesir (Padang: IAIN Imam Bonjol, 2006) 

http://rayhania.abatasa.com http://khamdanguru.wordpress.com http://pasaronlineforall.blogspot.com
»»  READMORE...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More