Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2015

Sejarah Agama Hindu

I. Pendahuluan 
Tidak bisa dipungkiri bahwa Agama Hindu tidak terlepas dari peradaban zaman India Kuno pada waktu itu. Peradaban yang dilatarbelakangi oleh adat istiadat dn kepercayaan-kepercayaan, sungguh menjadi khazanah wawasan keagamaan tersendiri bagi agama Hindu dan pemeluknya. 

Agama Hindu merupakan salah satu contoh agama yang kami angkat tema pada kali ini merupakan hasil dari sejarah. Dari pada itu sejarah merupakan hal yang mendasari segala aspek kehidupan. Pada kali ini kami ingin memaparkan secara sederhana tentang asal-usul Agama Hindu. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. 

II. Asal-usul Agama Hindu dan Pembawanya 
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi", dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). 

Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta).

Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda. 

 Agama Hindu sebagaimana nama yang dikenal sekarang ini, pada awalnya tidak disebut demikian, bahkan dahulu ia tidak memerlukan nama, karena pada waktu itu ia merupakan agama satu-satunya yg ada di muka bumi. Sanatana Dharma adalah nama sebelum nama Hindu diberikan. Sanatana dharma yang memiliki makna "kebenaran yg kekal abadi" dan jauh belakangan setelah ada agama-agama lainnya barulah ia diberi nama untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sanatana dharma pada zaman dahulu kala dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai shindu, penganut Weda ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang indu (tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lama-kelamaan nama indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut sanatana dharma disebut Hindu. 

Agama hindu adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada kitab suci yang disebut Weda. Weda diyakini sebagai pengetahuan yang tanpa awal tanpa akhir dan juga dipercayai keluar dari nafas Tuhan bersamaan dengan terciptanya dunia ini. Karena sifat ajarannya yng kekal abadi tanpa awal tanpa akhir maka ia disebut sanatana dharma. Apabila membahas tentang Agama Hindu, kita harus mengetahui sejarah tempat munculnya agama tersebut. India adalah sebuah Negara yang penuh dengan rahasia dan cerita dongeng, masyarakatnya berbangsa-bangsa dan berkasta-kasta, malah ada masyarakat dalam masyarakat, serta sungguh banyak ditemui agama-agama. Bahasa dan warna kulit pun bermacam-macam. 

Pembicaraan mengenai India berarti adalah pembicaraan yang bercabang-cabang. Dipandang dari sudut ethnologi, India adalah tanah yang beraneka penduduknya, dan akibatnya orang dapat melihat kebudayaan yang beraneka pula. Semuanya ini tercermin dalam agamanya. Oleh karena itu barangsiapa mulai mempelajari agama Hindu ia akan segera merasa terlibat dalam sejumlah ajaran-ajaran, sehingga hampir tidak dapat menemukan jalan untuk mengadakan penyelidikan. Sepanjang orang dapat menyelidikinya, maka sejarah kebudayaan India mulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, rupa-rupanya di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris. Berbagai cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita bahwa di dalam zaman itu di sepanjang pantai dari Laut Tengah sampai ke Teluk Benggala terdapat sejenis peradaban yang sama dan yang sudah meningkat pada perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di dekat kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara Karachi. Bahkan disitu diketemukan sisa-sisa sebuah kota, Mohenjodaro namanya, di mana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga. 

Penduduk India pada zaman itu terkenal sebagai bangsa Drawida. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memrintah negerinya sendiri, karena mereka di sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan kecil dan berambut keriting. Nama India diambil dari sungai Indus. Perkataan Ind dan Hindu keduanya berarti bumi yang terletak di belakang Sungai Indus, dan penduduknya dinamakan orang-orang India atau orang-orang Hindu. 

Mengenai penamaan Negara India, Gustav Le Bon berkata: “Orang-orang Barat berpendapat bahwa nama Sungai Indus telah dipinjamkan kepada negara yang mengandung berbagai rahasia yang terletak di sebelah belakangnya. Alasan ini tidak diterimanya bulat-bulat sebab nama India itu harus diambil dari nama Tuhan Indra.” Peradaban India telah berlangsung lama. Negara india telah menghasilkan beberapa Filosof agung sebelum Socrates dilahirkan. Di Negara India ini sudah tersebar tanda-tanda ilmu pengetahuan dan bangunan-bangunan yang megah pada suatu masa dahulu ketika Kepulauan Inggris masih dalam keadaan terbelakang. India adalah negara yang penuh dengan keajaiban dan pertentangan, hingga boleh dianggap sebagai sebuah Negara yang mengandung negara-negara. India adalah salah satu pusat peradaban kuno di dunia. 

Dalam hal ini, India menandingi Mesir, Cina, Assyria, dan Bailonia. Tetapi, peradaban India yang mendahului zaman Arya hanya baru dapat diketahui dan ditemukan dengan pengungkapan-pengungkapan baru dalam tingkatan kemajuan yang pernah dicapai oleh India dalam bidang arsitektur, pertanian, dan kemasyarakatan sejak masa 300 tahun SM, yaitu 1500 tahun sebelum kedatangan bangsa Arya. Antara 2000 dan 1000 tahun SM masuklah ke India dari sebelah utara kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu-Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani dan Romawi dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan Asia. Mereka tergolong dalam apa yang kita sebut rumpun-bangsa Indo-German. Hinduisme dapat disamakan dengan rimba raja yang penuh dengan pohon-pohonan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan dan kembang-kembangan, pendeknya suatu serba ragam yang sulit sekali. Karena Hinduisme memperlihatkan berbagai bentuk dan bermacam-macam gejala-gejala agama. Suatu penyampuradukkan dari pada tokoh-tokoh dewa, bentuk-bentuk kultur, sel-sel agama dan mazhab-mazhab agama berdasarkan filsafat. 

Suatu perbedaan yang rumit antara pernyataan-pernyataan mistik yang sangat murni dan luhur atau pernyataan cinta yang mesra terhadap dewata pemurah yang tunggal dan bentuk-bentuk keagamaan dimana nafsu-nafsu manusia yang rendah dengan sejarah kasar menampakkan dirinya. Gambaran yang diberikan Hinduisme dalam keseluruhannya memang beraneka warna dan mengacaukan. Pesan pertama yang kita dapat ialah bahwa dalam Hinduisme boleh dikatakan terhimpun seluruh sejarah agama dengan segala ragam dan bentuk kesalahannya. Tetapi hal ini justru menambah kesulitan untuk mencoba apa yang mau dilakukan dalam karangan ini, yaitu menggambarkan Hinduisme secara ringkas. Kendati demikian kita harus mencoba membentuk pengertian tentang wujud Hinduisme. Biarpun kita tak dapat berbuat lebih dari pada hanya memberikan sesuatu gambaran dalam garis-garis besar dengan harapan semoga gambaran ini menyerupainya. Hinduisme ialah agama dari pada jutaan penduduk India. 

Tidaklah mudah untuk menentukan dengan kata-kata singkat, apa sebenarnya Hinduisme itu. Oleh karena itu, Hinduisme hamper sama sekali tak mempunyai bentuk dan terlalu merupakan suatu himpunan unsure-uunsur yang tak sama. Tetapi terutama sekali oleh karena terhadap Hinduisme tak dapat dipakai rumusan-rumusan yang biasa dipakai untuk merumuskan apakah agam itu. 

Pertama-tama Hinduisme tak ada pendirinya sehingga kita tak dapat menyimpulkan dari ajaran atau khutbahnya siapa sebetulnya Hinduisme itu. Penganut-penganutnya tak diharuskan mempunyai suatu keyakinan tertentu mengenai Tuhan, manusia dan dunia. Dalam Hinduisme tidak ada suatu pengakuan iman yang dapat dirumuskan dengan jelas yang disetujui oleh semua penganutnya. Juga tidak ada suatu atau bermacam-macam organisasi keagamaannya yang menghimpun semua penganutnya. Lebih tepat rasanya jika Hinduisme kita namakan suau system social yang diperkuat oleh cita-cita keagamaan dan dengan demikian lalu mempunyai tendensi keagamaan. Tak ada seorang pun yang dapat menjadi seorang Hindu dengan jalan menganut suatu agama tertentu. Seseorang adalah Hindu berkat kelahirannya. Keadaan ini meletakkan kewajiban untuk megikuti peraturan-peraturan upacara-upacara tertentu, pada umumnya peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pembagian kasta dan khsusunya pemberian korban dan upacara –upacara keagamaan dan timbul dari pada pembagian kasta tadi. Ikatan-ikatan batin pada upacara yang turun temurun ini sangat kuat. Hal ini nyata sekali pada diri Gandi yang jelas bersimpati terhadap agama Kristen, tetapi tetap tinggal Hindu karena pertaniannya dengan bangsanya dan bubungan batinnya dengan kebudayaan agama sukunya. Bangsa Arya yang turun ke lembah Indus kira-kira 1500 tahun SM yang memberi corak pada kebudayaan India. Bangsa Arya ini satu suku dengan bangsa Iran yang bernabikan Zarathustra. 

Para peneliti berpendapat, dan ini lebih tepat, bahwa bangsa Arya ini berasal dari Asia, dahulunya mereka hidup di Asia Tengah di negeri Turkistan berdekatan dengan Sungai Jihun, kemudian berpindah pula dalam kelompok-kelompok yang besar menuju ke India melalui Parsi, dan mereka juga menuju Eropa. Nyatalah bahwa kedatangan bangsa Arya ke India terjadi pada abad ke-15 SM. Bangsa Arya ini telah memerangi kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh bangsa berkulit kuning di India itu dan berhasil mengalahkan sebagaian besar dari mereka serta menjadikan kawasan-kawasan yang dikalahkannya itu sebagai wilayah yang tunduk di bawah pengaruh mereka. 

Bangsa Arya tidak bercampur dengan penduduk India dengan jalan perkawinan, malah mereka menjaga dengan sungguh-sungguh keturunan mereka yang berkulit putih itu, dan menggiring penduduk asli Negara India ke hutan-hutan dan ke gunung-gunung atau menjadikan mereka sebagai orang-orang tawanan yang dinamakan dalam sastra lama Bangsa Arya sebagai Bangsa Hamba Sahaya. Bangsa Arya ini telah meminta pertolongan dari Tuhan mereka “Indra” untuk mengalahkan penduduk India. Di antara bacaan do’a mereka adalah “wahai Indra Tuhan kami! Suku-suku kaum Dasa (budak) telah mengepung kami dari segenap penjuru dan mereka tidak memberikan korban apa-apa, mereka bukan manusia dan tidak berkepercayaan. Wahai Penghancur musuh! Binasakanlah mereka dari keturunannya.” Tentang sejauh mana pengaruh bangsa-bangsa berkulit kuning (Bangsa Turan) dan berkulit putih (Bangsa Arya) di India telah diterangkan oleh Gustav Le Bon: “Bangsa Turan adalah bangsa penyerang yang kuat sekali mengubah penduduk negeri India dari segi fisik dan bangsa Arya juga meninggalkan kesan yang mendalam terhadap bangsa India dari segi budaya. Dari bangsa Turan, penduduk India mengambil ciri ukuran tubuh dan raut muka, dan dari bangsa Arya mereka mengambil ciri bahasa, agama, undang-undang, dan adat-istiadat.” Pertemuan bangsa Arya dan bangsa Turan dengan penduduk asli telah menimbulkan kasta-kasta masyarakat di India dan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam sejarah negara ini. Dari bangsa Arya terbentuk golongan ahli-ahli agama (Brahmana) dan golongan prajurit (Ksatria). 

Dari bangsa Turan terbentuk pula golongan saudagar dan ahli-ahli tukang (Waisya). Pada mulanya orang-orang Hindu yang bergaul dengan bangsa Turan tidak termasuk dalam pembagian ini, tetapi dalam beberapa zaman kemudian peradaban Arya meresap ke dalam sebagian diri mereka, lalu bangsa Arya pun terbentuk dari kalangan orang-orang Hindu golongan keempat, yaitu golongan pesuruh dan hamba sahaya (Sudra). Penduduk-penduduk asli yang tidak tersentuh dengan peradaban Arya adalah disebabkan karena mereka memisahkan diri dari bangsa-bangsa pendatang itu. Maka, tinggallah mereka jauh dari pembagian ini dan terus menjadi orang-orang yang tersingkir atau terhalau dari masyarakat (out-casts). 

Untuk lebih jauh penjelasan tentang golongan-golongan ini akan dijelaskan pada makalah lain yang akan berbicara tentang golongan-golongan tersebut. Mungkin sekali bangsa-bangsa Arya itu ketika masuk ke India kurang beradab daripada bangsa Drawida yang ditaklukkannya. Tetapi mereka lebih unggul dalam ilmu peperangan daripada bangsa Drawida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke India, mereka itu masih merupakan bangsa setengah nomad (pengembara)., yang baginya peternakan lebih besar artinya daripada pertanian. Bagi bangsa Arya, kuda dan lembu adalah binatang-binatang yang sangat dihargai, sehingga binatang-binatang itu dianggap suci. Dibandingkan dengan bangsa Drawida yang tinggal di kota-kota dan mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan di sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu bolehlah dikatakan primitive. Dahulu orang tidak tahu dengan tepat dan selalu memandang kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Arya. Tetapi terutama sesudah penggalian-penggalian tersebut di atas, berubahlah pandangan orang dan makin banyak diketahui, bahwa bermacam-macam unsure di dalam kebudayaan India berasal dari kebudayaan Drawida yang tua itu. Umpamanya saja bangsa Arya belum mempunyai patung-patung dewa, bangsa Drawida sudah. Sebuah gejala yang tipik atau khas di dalam agama Hindu ialah pengakuan adanya dewa-dewi induk. Itupun suatu gejala pra-Arya. Demikian pula banyak gejala-gejala Agama Hindu yang rupa-rupanya tidak berasal dari agama bangsa Arya, melainkan berasal dari aama bangsa Drawida. Jadi dapatlah dikonstatir dengan jelas bahwa Agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan fikiran keagamaan dua bangsa yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi kemudian lebur menjadi satu. Di dalam tulisan-tulisan Hinduistis yang tertua, unsur-unsur Arya lah yang sangat besar pengaruhnya. Hal itu tidak mengherankan karena tulisan-tulisan itu berasal dari zaman bangsa Arya memasuki India dengan kemenangan-kemenangan, jadi pengaruh Drawida tentunya belum begitu besar. Agama bangsa Arya kita kenal dari kitab-kitabnya yang mengenai agamanya, yakni kitab-kitab Weda (Weda artinya tahu). Oleh karena itu masa yang tertua dari agama Hindu disebut masa Weda. Maulana Mohamed Abdul Salam al-Ramburi juga berkata: “Umat India mudah menerima apa saja pemikiran dan kepercayaan yang ditemuinya. Di kalangan mereka banyak terdapat pendapat dan kejahilan. Orang-orang berada dalam kebingungan dan bersedia menerima dan mengukuhkan semua ini…. Kepercayaan mereka bermacam-macam, pemikiran mereka bercabang-cabang, gejala ketuhanan merebak, begitu juga ilmu-ilmu kebatinan. Sarana-sarana untuk berfikir dan menyepi telah disediakan di seluruh penjuru negeri India oleh para Pendeta dan Cendekiawan. Lahirlah beberapa pengkajian moral yang diikuti oleh segenap golongan masyarakat. Tersebar jugalah latihan-latihan badan yang berat dan sulit untuk mendapatkan suatu kekuatan yang dapat menguasai kekuatan alam. Pertapaan di gua-gua sebagai suatu pengawasan atas diri adalah menjadi tumpuan, begitu juga pengasingan diri ke hutan-hutan rimba untuk melemaskan tubuh supaya dapat naik mencapai kekuatan rohani.” Oleh karena itu, Negara India terkenal mempunyai banyak agama dan kepercayaan yang menyamai atau hamper-hampir sama banyaknya dengan jumlah bahasa India. Agama Hindu adalah yang termasyhur di antara agama-agama ini dan luas sekali penyebarannya, malah dialah agama umum yang meliputi kebanyakan atau semua orang India. Kadang-kadangn sekiranya mereka atau sebgian dari mereka bangkit menentangnya, penentang-penentang itu lambat laun akan kembali ke pangkuannya. Buku Hinduism telah menerangkan sebab-sebab terjadinya hal demikian dengan menuliskan: “Amat sulit untuk dikatakan bahwa Hinduisme itu adalah suatu agama dalam pengertiannya yang sangat luas. Hinduisme lebih meliputi dan lebih dalam daripada agama. Ini merupakan suatu sifat bagu bentuk masyarakat India dengan aturan berkasta-kasta dan kedudukan tiap-tiap kasta itu di dalam masyarakat. Ini merupakan kehidupan India dengan caranya tersendiri yang dianggap sebagai satu dari semua masalah suci dan masalah hina karena di dalam pemikiran Hindu tidak ada batas yang memisahkan keduanya. Ini merupakan aliran-aliran rohani, moral dan perundangan. Di samping itu, ia juga merupakan prinsip-prinsip, ikatan-ikatan, dan kebiasaan-kebiasaan yang menguasai dan mengendalikan kehidupan Hindu.” Agama Hindu adalah suatu agama yang berevolusi dan merupakan kumpulan adat-istiadat dan kedudukan yang timbul dari hasil penyusunan bangsa Arya terhadap kehidupan mereka yang terjadi pada satu generasi ke generasi yang lain sesudah mereka datang berpindah ke India dan menundukkan penduduk asli itu. Kedudukan bangsa Arya sebagai penakluk negeri yang lebih tinggi daripada kedudukan penduduk asli serta pergaulan mereka telah melahirkan adat-istiadat Hindu itu yang dianggap menurut perputaran sejarah, sebagai suatu agama yang dianut dan dipegang tata susilanya oleh orang-orang India. Kiranya dapat dikatakan bahwa asas Agama Hindu adalah kepercayaan bangsa Arya yang telah mengalami perubahan sebagai hasil dari percampuran mereka dengan bangsa-bangsa lain, terutama sekali adalah bangsa Parsi, yaitu sewaktu dalam masa perjalanan mereka menuju India. Kemudian, kepercayaan-kepercayaan ini menerima kesan pula di negeri India setelah berbenturan dengan pemikiran-pemikiran penduduk asli dan dengan falsafah-falsafah dan pemikiran-pemikiran yang telah ada di India dalam beberapa tingkatan sejarah yang berjauhan hingga Agama Hindu itu menyimpang jauh dari kepercayaan asli bangsa Arya. Agama Hindu lebih merupakan suatu cara hidup daripada merupakan kumpulan kepercayaan. Sejarahnya menerangkan mengenai isi kandungannya yang meliputi berbagai kepercayaan, hal-hal yang harus dilakukan, dan yang boleh dilakukan. Agama ini tidak mempunyai kepercayaan yang membawanya turun hingga kepada penyembahan batu dan pohon-pohon, dan membawanya naik pula kepada masalah-masalah falsafah yang abstrak dan halus. Seandainya Agama Hindu tidak mempunyai pendiri yang pasti maka begitu pula halnya dengan Weda. Kitab suci ini yang mengandung kepercayaan-kepercayaan, adat-istiadat, dan hukum-hukum juga tidak mempunyai pencipta yang pasti. Para penganut agama Hindu mempercayai bahwa kitab ini adalah suatu kitab yang ada sejak dahulu yang tidak mempunyai tanggal permulaan. Kitab ini diwangsitkan sejak awal kehidupan, setara dengan awal yang mewangsitkannnya. Mari kita baca sekilas tentang bangsa Dravida dan bangsa Arya. 

Bangsa Dravida di India 

Penduduk India yang asli pada waktu bangsa Arya menyerbu ke India terutama masuk bangsa Dravida. Bangsa ini ialah penduduk asli yang diketemukan menduduki kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara kota Karachi pada tahun 3000-2000 SM. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tapi lama kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah negerinya sendiri, karena mereka sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan kecil dengan rambut keriting. Bangsa Dravida mempunyai peradaban tinggi waktu itu, ternyata di daerah Punjab dan lereng sungai gangga terdapat daerah yang subur yang sudah dikerjakan oleh bangsa Dravida. Dan di kota-kota yang terkenal disebut Mohenjodaro dan Harappa pun sudah dibuat rumah-rumah batu yang dikerjakan oleh mereka. Mereka bercocok tanam dan pandai berlayar menyusur pantai. 

Bangsa Arya

Bangsa Arya ialah suatu bangsa yang masuk ke India kira-kira pada tahun 2000-1000 SM, dari sebelah utara. Mereka ialah kaum yang memisahkan diri dari bangsanya di Iran dan memasuki India melalui jurang-jurang di Pegunungan Hindu Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani, Romawi, dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan di Asia. Mereka tergolong apa yang disebut rumpun bangsa Indo-German. Setelah datang di India mereka menetap di daratan sungai Sinhu yang pada zaman itu masih subur jadi di daerah itu mereka telah menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam beberapa hal mereka berbeda dengan bangsa Dravida. Mereka berkulit putih dan berbadan tegak, bentuk hidungnya melengkung sedikit. Kemudian mereka telah jauh memasuki India sampai di tepi Sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan. Dan disitu mereka makin bercampur dengan bangsa Dravida dan dengan demikian terwujudlah kemudian suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan Dravida yang tua itu dengan kebudayaan Arya maka terjadilah kemudian kebudayaan India. 

III. Agama Lembah Sungai Indus 
Peradaban Lembah Sungai Indus 
Penduduk asli Lembah sungai Indus adalah bangsa Dravida yang berkulit hitam. Di sekitar sungai itu terdapat dua pusat kebudayaan yaitu Mohenjo Daro dan Harappa. Mereka sudah menetap di sana dengan mata pencaharian bercocok tanam dengan memanfaatkan aliran sungai dan kesuburan tanah di sekitarnya. Menurut teori kehidupan bangsa Dravida mulai berubah sejak tahun 2000-an SM karena adanya pendatang baru, bangsa Arya. Mereka termasuk rumpun berbahasa Indo-Eropa dan berkulit putih. Bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida ke bagian selatan India dan membentuk Kebudayaan Dravida namun, sebagian lagi ada yang bercampur antara bangsa Arya dan Dravida yang kemudian disebut bangsa Hindu. Oleh karena itu, kebudayaannya disebut kebudayaan Hindu. 

Peradaban Lembah Sungai Indus 
1) Letak Geografis Sungai Indus 
a. Di sebelah Utara berbatasan dengan China yang dibatasi Gunung Himalaya 
b. Selatan berbatasan dengan Srilanka yang dibatasi oleh Samudera Indonesia 
c. Barat berbatasan dengan Pakistan 
d. Timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh 

2) Peradaban sungai Indus (2500 SM) 
a. Kebudayaan kuno India ditemukan di kota tertua India yaitu daerah Mohenjodaro dan Harappa. 
b. Penduduk Mohenjodaro & Harappa adalah bangsa Dravida 
c. Saluran air bagus 
d. Terdapat hubungan dagang antara Mohenjodaro dan Harappa dengan Sumeria. 
e. Perencanaan yang sudah maju 
f. Rumah-rumah terbuat dari batu-bata 
g. Mohenjodaro dan Harappa merupakan kota tua yang dibangun berdasarkan : 
h. Jalan raya lurus dan lebar 

1. Pusat Peradaban 
Peradaban Lembah Sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi-diKota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibukota daerahLembah Sungai Indus bagian selatan dan Kota Harappa sebagai ibukota Lembah Sungai Indusbagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India pada masalampau. 

2. Tata Kota 
Di Kota Mohenjodaro dan terdapat gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoandibangun secara teratur dan berdiri kukuh. Gedung-gedung dan rumah tinggal dan pertokoan itusudah terbuat dari batu bata lumpur. Wilayah kota dibagi atas beberapa bagian atau blok yang dilengkapi jalan yang adaaliran airnya. 

3. Sistem Pertanian dan Pengairan 
Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi matapencaharian utama masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telahberhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerahpedalaman. Pembuatan saluran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukkanbahwa masyarakat Lembah Sungai Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasilpertanian yang utama adalah padi, gandum, gula/tebu, kapas, teh, dan lain-lain. 

4. Sanitasi (Kesehatan) 
Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan sanitasi (kesehatan)lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang telah memperhatikanfaktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah mereka sudah dilengkapi olehjendela. 

5. Teknologi 
Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi,Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan budaya yang ditemukan,seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai macam patung, perhiasan emas,perak, dan berbagai macam meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alatpeperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah 

6.Pemerintahan 
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Maurya antara lain sebagai berikut : 
a. Candragupta Maurya 
Setelah berhasil menguasai Persia, pasukan Iskandar Zulkarnaen melanjutkan ekspansidan menduduki India pada tahun 327 SM melalui Celah Kaibar di Pegunungan Himalaya.Pendudukan yang dilakukan oleh pasukan Iskandar Zulkarnaen hanya sampai di daerah Punjab.Pada tahun 324 SM muncul gerakan di bawah Candragupta. Setelah Iskandar Zulkarnaenmeninggal tahun 322 SM, pasukannya berhasil diusir dari daerah Punjab dan selanjutnyaberdirilah Kerajaan Maurya dengan ibu kota di Pattaliputra. Candragupta Maurya Menjadi raja pertama Kerajaan Maurya. Pada masapemerintahannya, daerah kekuasaan Kerajaan Maurya diperluas ke arah timur, sehinggasebagian besar daerah India bagian utara menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktusingkat, wilayah Kerajaan Maurya sudah mencapai daerah yang sangat iuas, yaitu daerahKashmir di sebelah barat dan Lembah Sungai Gangga di sebelah timur. 

b. Ashoka 
Ashoka memerintah.Kerajaan Maurya dari tahun 268-282 SM. Ashoka merupakan cucudari Candragupta Maurya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Maurya mengalami masayang gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasainya. Namun, setelah ia menyaksikankorban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan dan tidak lagimelakukan peperangan. Mula-mula Ashoka beragama Hindu, tetapi kemudian menjadi pengikut agama Buddha.Sejak saat itu Ashoka menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi negara. Setelah Ashokameninggal, kerajaan terpecah-belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering terjadi dan barupada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil mempersatukan kerajaan yang terpecahbelah itu. Maka berdirilah Kerajaan Gupta dengan Candragupta I sebagai rajanya. 

7. Kepercayaan 
Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau memujabanyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan kemakmuran (Dewi Ibu).  Masyarakat lembah Sungai Indus juga menyembah binatang-binatang seperti buaya dangajah serta menyembah pohon seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkansebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. 

Peradaban lembah sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi di kota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibu kota daerah lembah sungai Indus bagian selatan. Dan kota Harappa sebagai Ibu kota lembah sungai Indus bagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India pada masa lampau. 

System kepercayaan masyarakat lembah sungai Indus bersifat politeisme atau memuja banyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan kemakmuran. Masyarakat lembah sungai Indus juga menyembah binatang seperti buaya, gajah, serta menyembah pohon seperti pohon beringin, dan lain-lain. Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. Bangsa Arya dan bangsa Dravida merupakan bangsa yang memiliki ideology keagamaan yang berbeda satu sama lain, akan tetapi dari kedua ideology agama tersebut, melahirkan suatu agama persatuan dari keduanya, yakni agama Hindu. Interaksi bangsa Dravida dan bangsa Arya menghasilkan Agama Hindu. 

IV. Kesimpulan 
Secara historis, agama Hindu merupakan agama yang berasal dari Negara India. Agama Hindu juga merupakan salah satu agama yang tertua di dunia. Agama Hindu dilihat dari sejaraah mulanya, agama ini merupakan hasil persatuan antara keprcayaan atau agama-agama yang berada di India. Bangsa Dravida merupakan bangsa yang berasal dari dalam India, akan tetapi setelah datangnya bangsa Arya yang telah merebut kekuasaan bangsa Dravida pada waktu itu. Bangsa Dravida pun menghindari dari kecaman bangsa Arya, sehingga bangsa Dravida pergi menuju pedalaman bahkan bertempat di dataran tinggi India. Interaksi antara keduanya juga salah satu dari asal-mulanya agama Hindu. Persatuan yang mendesak bangsa Dravida membuat mereka bercampur dengan bangsa Arya dan melahirkan kepercayaan yang hingga sekarang ada di dunia, yakni agama Hindu. 

V. DAFTAR PUSTAKA 
Thalhas, T. H. Pengantar Studi Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta: Galura Pase, 2006. 
Honig Jr, A. G. Ilmu Agama. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1997. 
Shalaby, Ahmad. Perbandingan Agama; Agama-Agama Besar di India; Hindu-Jaina-Budha. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2001. 
Bleeker, C. J. Pertemuan Agama-Agama Dunia. Jakarta: Sumur Bandung, 1963. 
Rifa’I, Moh. Perbandingan Agama. Semarang: Wicaksana, 1980.
»»  READMORE...

Islam dan Yahudi

Hai para blogger, di bawah ini adalah Working Paper atau makalah saya sewaktu masih kuliah. Pada waktu itu saya mendapatkan kesempatan untuk menulis tentang Islam dan Yahudi. Saya yakin isi makalah ini masih sangat kurang, masih biasa-biasa saja sebab pada waktu itu saya masih duduk di tahun pertama Kuliah jadi bahan dan referensinya pun masih terbatas. Tapi semoga bisa bermanfaat ^_^.

A. Islam 
Nabi Muhammad. adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus Allah Swt. untuk menyempurnakan ajaran-ajaran para Nabi sebelumnya. Islam merupakan agama yang memberikan petunjuk yang sempurna dalam semua aspek dan kondisi kehidupan umat beragama, baik dalam kehidupan individual maupun kehidupan sosial. Misalnya, status wanita dalam Islam; seorang wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki walaupun ada perbedaannya dalam kewajibannya. 

Esensi ajaran agama Islam sangat indah kalau diamalkan, misalnya penghapusan perbudakan, karena pada zaman jahiliyah banyak sekali perbudakan, tapi dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw. dengan ajaran barunya maka dibebaskanlah perbudakan. Kejujuran dan pengembangan karakter, keadilan yang merata terutama di bidang politik, ekonomi dan perdata, kebebasan beragama, persaudaraan yang universal tanpa memandang ras dan suku bangsa merupakan beberapa hal yang menjadikan Islam itu sebagai agama yang penuh rahmat. Islam berarti takluk, yaitu takluk pada kemauan Allah Swt. Seorang muslim ialah orang yang patuh pada perintah Allah Swt. tanda yang ciri dari agama ini ialah komitmennya mengenai kepatuhan. Tuntutan ini telah dapat menghidupkan rasa kesetiaan yang kokoh dan penyerahan diri yang mutlak dalam hati penganut-penganut agama Islam. 

Dengan demikian dapatlah diterangkan, bahwa Islam telah menjadi agama dunia dan sampai sekarang masih kuat pengaruhnya atas sejumlah besar bangsa-bangsa di dunia. Selintas Perkembangan Agama Islam Sejarah pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dapat dibagi dalam empat periode, yaitu: 

1. Periode Masa Permulaan: 
- Zaman Rasulullah Saw.
- Masa Khulafa al-Rasyidin 

2. Periode Pertumbuhan dan Perkembangan: 
- Masa Daulah/Dinasti Umayyah 
- Masa Daulah/Dinasti Abbasiyyah 
- Puncak kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan 
- Periode Islam tersebar ke berbagai dunia 

3. Periode Masa Kesultanan: 
- Kesultanan Shafawi 
- Kesultanan Mongol 
- Kesultanan Usmani atau Fatimiyyah 
- Daulah-daulah kesultanan Islam lainnya. 

Sumber Pokok Ajaran Islam 
Di dalam agama Islam kita mengenal dua macam sumber utama ajaran Islam ini, yaitu sumber primer (Al-Qur’an dan Al-Sunnah), dan sumber sekunder dan dinamis (Ijtihad, Ijma’, dan Qiyash atau Qaul al-‘Ulama), dengan penjelasan dan penjabaran ulama tentang masalah hukum ibadah yang tidak dengan tegas dirincikan dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah. 

Keimanan dan Rukun Iman 
Pokok-pokok keimanan dalam Islam banyak ditampilkan oleh sejumlah ayat dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surat Al-Baqarah ayat 62, 177 dan 285. Disamping surat tersebut terdapat juga dalam surat yang lain sebagai dasar ajaran Islam disebutkan terdiri atas lima pokok keimanan, yaitu: Iman kepada Allah Swt, Iman kepada Rasulullah, Iman kepada kitab-kitab suci, Iman kepada para malaikat dan yang terakhir Iman kepada hari akhirat. 

Lima Pilar Utama Rukun Islam 
Manifestasi formal dari iman dalam ajaran Islam yang merupakan lima tiang utama adalah syahadat, salat, zakat, puasa, dan ibadah haji. Apabila kita bandingkan bahwa iman itu sebagai roh atau jiwa agama, maka kelima sendi-sendi Islam itu adalah tubuh jasmaninya. Ini berarti bahwa Iman dan Islam itu adalah wujud agama yang utuh dan konkrit. Namun kualitas keimanan dan keislaman masih ditentukan oleh aspek seseorang itu sendiri, yakni Ihsan dan beramal shaleh. 

B. Yahudi Asal-usul Agama Yahudi 
Pendiri agama ini pertama-tama adalah Nabi Musa as. putra Imran pada sekitar abad ke-13 SM yang membebaskan orang Yahudi dari perbudakan orang Mesir dan telah mengadakan perjanjian antara Bani Israel dengan Yehova di Gunung Sinai. 

Konsep ketuhanan agama ini adalah monoteisme, dan mereka hanya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yahudi adalah nama suatu bangsa yang lazim disebut Israel atau Ibrani (Hebrew). Ada pendapat lain mengatakan bahwa bangsa Ibrani berasal dari keluarga Nabi Ibrahim as, karena tempat kediaman mereka di tepi sungai. Boleh jadi sungai yang dimaksudkan itu ialah sungai Euphrat atau boleh jadi sungai Jordan. Kata Yahudi berasal dari kata hada (bahasa Ibrani) yang berarti “tobat atau kembali”. Musa pernah mengatakan “inn hudn ilaika”, artinya kami tunduk dan tobat kepada-Mu. 

Kata Yahudi juga dinisbahkan kepada Yahuda, salah seorang dari dua belas orang anak Ya’qub ibn Ishak ibn Ibrahim seperti disebutkan dalam Perjanjian Lama. Bangsa Israel atau yahudi dalam Al-Qur’an disebut Bani Isra’il, artinya keturunan Isra’il. Isra’il ialah nama atau gelar bagi Nabi Ya’kub yang artinya “Pejuang untuk Tuhan” atau yang taat berbakti kepada Allah Swt. Nabi Ya’kub mempunyai putra dua belas orang, yaitu: Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Zebulon, Ishakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf dan Benyamin. Dari dua belas orang inilah yang menjadi asal dua belas suku dari bangsa Isra’il yang sekarang. Pada zaman Nabi Yusuf, mereka pindah ke Mesir negeri Egypte. Dari keturunan Nabi Ya’kub yang dua belas orang itulah mereka dikenal di Mesir dengan sebutan Bani Isra’il. Yahudi nama yang dipakai kemudian, adalah sebutan yang dinasabkan kepada Yahuda salah seorang anak Nabi Ya’kub. Sejarah bangsa yahudi itu mulai dari Nabi Ya’kub, tapi karena bangsa Yahudi sangat erat hubungannya dengan bangsa-bangsa di Timur Tengah lainnya seperti bangsa Arab, Armenia, dan lain-lain, maka orang mempelajari bangsa Yahudi mulai dari Nabi Ibrahim ayah Nabi Isma’il dan Ishaq. Nabi Isma’il merupakan nenek moyang bangsa Arab. Dan Nabi Ishaq ayah Nabi Ya’kub adalah nenek moyang bangsa Yahudi. Bangsa Isra’il mula-mula berdiam di Mesopotamia (Irak), kemudian pindah ke Kan’an (Palestina) dipimpin oleh Nabi Ibrahim kira-kira pada tahun 2000 SM. 

Tentang perpindahan Nabi Ibrahim ke Palestina (Kan’an) itu terdapat persesuaian antara perjanjian lama dengan Al-Qur’an, yaitu bahwa kepindahan Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan. Pokok-pokok Ajaran Agama Yahudi Mengenai pokok-pokok ajaran agama Yahudi sebagaimana tersimpul dalam kitab Taurat yang terkenal dengan “Ten Commandements”, sepuluh hukum perintah atau undang-undang sepuluh wasiat. Dalam kitab keluaran pasal 20 ayat 1-17 berbunyi secara ringkas sebagai berikut: “Akulah Yahovah Tuhan Allah-mu yang telah menyelamatkan kamu sekalian dari perhambaan Fir’aun di tanah Mesir.” 

Adapun “Ten Commandements” itu ialah sebagai berikut: 
1. Jangan engkau menyembah Tuhan yang lain daripada-Ku. 
2. Janganlah engkau membuat dan menganggap arca dan segala macam bentuk barang yang ada di langit dan di bumi, dan yang ada di dalam air di bawah bumi, janganlah engkau menundukkan dirimu, sujud dan berbakti kepada semua benda itu. 
3. Janganlah engkau menyebutkan nama Tuhan dengan sia-sia. 
4. Ingatlah engkau akan hari Sabat (hari penghentian semua harkat). Hendaklah engkau hormati dan sucikan hari itu. 
5. Berilah hormat akan bapakmu dan ibumu supaya dilanjutkan umurmu dalam negeri yang dianugerahkan Tuhan-mu. 
6. Janganlah engkau membunuh orang. 
7. Janganlah engkau berbuat zina. 
8. Janganlah engkau mencuri. 
9. Janganlah engkau menjadi saksi dusta terhadap sesamamu. 
10. Janganlah engkau mempunyai keinginan untuk menguasai dan merampas dan hak-hak milik orang lain.

Wadah tempat untuk tempat mereka berkumpul dan beribadah yang dianggap suci dinamakan Kanisah (Sinagogue), Tempel atau Gereja. Tempat suci yang tertinggi bagi umat Yahudi sejak zaman purbakala adalah Kanisah Yerussalem. Kanisah ini pertama kali dibangun oleh Nabi Sulaiman (960 SM). Sesudah didirikan selama 400 tahun Kanisah itu terbakar habis. Kanisah ini adalah Kanisah yang pertama-tama dalam agama Yahudi. Kanisah yang kedua dibangun oleh Raja Darius (515 SM) kemudian Kanisah ini dirusak oleh musuh-musuh orang Yahudi. Raja Herodes yang agung membangun kembali Kanisah ketiga dan kemudian dibakar kembali oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Titus dalam penyerbuannya ke Yerussalem sekitar tahun 70 M, karena orang-orang Yahudi berontak kepada kerajaan Romawi. 

Sejak tahun 70 M, Kanisah tertinggi Yahudi di Yerussalem tamat riwayatnya sebagai pusat kegiatan keagamaan Bani Isra’il. Sejak waktu itulah agama Yahudi dengan Bani Isra’il tersebar dan terpencar luas ke negara-negara lain. Mereka sekarang terpencar di seluruh dunia, yang terbanyak mereka berada di Amerika Serikat, Eropa, dan Uni Soviet bagian utara. Kitab Suci Agama Yahudi Para penganut ajaran agama Yahudi mempunyai kepercayaan bahwa kitab suci mereka disebut Taurat dan Talmud yang kemudian diberi nama oleh orang-orang Nasrani “The Old Testament” atau yang umum disebut “Kitab Perjanjian Lama” merupakan wahyu Ilahi. 

Kitab perjanjian lama adalah kumpulan dari 39 macam kitab-kitab Nabi Bani Isra’il sebelum zaman Nabi Isa as. Kitab sebanyak itu tentu saja tidak sekaligus ada, melainkan melalui beberapa masa yang telah melewati puluhan abad lamanya. Sebagai pegangan dapat dikatakan bahwa kitab-kitab itu ada sejak zaman Nabi Musa as. (1570-1450 SM) sampai kira-kira sampai 230 SM. Beberapa orang Yahudi tidak menamakan kitab suci mereka dengan kitab Perjanjian Lama. 

Menurut ulama-ulama Yahudi bahwa kumpulan kitab-kitab sebanyak 79 macam kitab itu dibagi atas tiga bagian, yaitu: 
1. Taurat, yaitu kitab undang-undang atau hukum. 
Kitab ini juga disebut Kanon yang terdiri dari: 
a. Kitab Kejadian (Conesia) berisi 50 pasal. 
b. Kitab Keluaran (Exodus) berisi 40 pasal. 
c. Kitab Imamat (Leviticus) berisi 27 pasal. 
d. Kitab Bilangan (Numeri) berisi 36 pasal. 
e. Kitab Ulangan (Deuterononium) berisi 34 pasal. 

Kelima kitab tersebut adalah pokok isi kitab Perjanjian Lama (Taurat) yang popular dikalangan mereka. 

2. Nabiyyin, yaitu kitab para Nabi, yang termuat dalam kelompok ini ada 21 kitab, seperti: 
1. Yusak, 
2. Hakim-Hakim, 
3. Samuel I, 
4. Samuel II, 
5. Raja-Raja, 
6. Yesaya, 
7. Yerinia, 
8. Yahazkiel, 
9. Danil, 
10. Hosea, 
11. Yul, 
12. Amos, 
13. Aboya, 
14. Yunus, 
15. Milha, 
16. Nakhum, 
17. Habakuk, 
18. Zafania, 
19. Hajay, 
20. Zakaria, dan 
21. Maleakhi. 

3. Kutubian, yaitu kumpulan kitab-kitab yang dikelompokkan dalam Kutubian ini ada 13 kitab, yaitu: 
1. Luth, 
2. Ester, 
3. Aiyub, 
4. Zabur (Mazmur), 
5. Amsal Sulaiman, 
6. Alkhotib, 
7. Syirulasyar, 
8. Nudup Yeremia, 
9. Tawarikh I, 
10. Tawarikh II, 
11. Ezra, 
12. Nehemia, 
13. Kitab Nabi Danil. 

Bahasa-bahasa asli kitab itu adalah bahasa Ibrani (Hebrew), hanya ada beberapa kitab yang memaki bahasa Aramaic (semacam bahasa Arab kuno). Kitab Talmud ada dua macam, yaitu: 
1. Talmud Yeruzalmi, kitab Talmud yang penutupnya dilakukan di Palestina kira-kira pada permulaan abad V Masehi. 
2. Talmud Babli, kitab Talmud yang penutupnya dilakukan di Babilonia sekitar abad VI Masehi. 

Mazhab dan Golongan-golongan Agama Yahudi 
1. Mazhab Faris, yaitu mazhab yang menafsirkan kitab Taurat dengan menggunakan metode filsafat yang disesuaikan dengan akal dan rasio. 
2. Mazhab Sadudi, yaitu mazhab yang mengamalkan ayat-ayat Taurat yang Bayyina (terang) tanpa menafsirkan secara filosof. Mereka melaksanakan ajaran agama yang jelas tersebut dalam Taurat. Kebanyakan mereka adalah para imam dan para ulama. Mereka menganggap dirinya lebih tahu dari mazhab-mazhab lain. 
3. Mazhab Syalha, yaitu mazhab yang sangat berhati-hati dan konservatif dalam menafsirkan Taurat. Artinya mereka sangat mementingkan jiwa ibadah dan pelaksanaan ibadahnya agar terhindar dari hal-hal khilafiyah. 

Adapun golongan-golongannya yaitu: 
1. Golongan Rabbani, yaitu golongan yang hanya mempercayai kitab Talmud. 
2. Golongan Al-Qurra, yaitu golongan yang hanya mempercayai kitab Taurat saja dan mengakui kitab Talmud. 
3. Golongan Sanurah, golongan yang mempunyai dan mempercayai bahwa kitab Taurat mereka asli dari Nabi Musa as. 

Ciri-ciri Khas Bangsa Yahudi 
Mereka amat fanatik kepada agamanya dan amat kuat mempertahankan bahasa Ibrani (Hebrew). Untuk membina dan memelihara bahasa tersebut mereka dirikan universitas dengan mempergunakan bahasa pengantar Ibrani atau sekurang-kurangnya ada jurusan Hebrew pada universitas itu. Dalam kehidupan sehari-hari mereka sangat ulet dalam berbagai macam-macam bidang usaha, umumnya mereka berhasil terutama dalam bidang ekonomi. Dalam dunia ilmu pengetahuan banyak menciptakan penemuan-penemuan ilmiah. Mereka adalah pecinta ilmu pengetahuan. 

II. INTERAKSI ANTARA ISLAM DAN YAHUDI 
Apabila kita berbicara tentang agama atau bangsa Yahudi, maka tidak akan terlepas dari agama atau bangsa Nasrani. Kedua masyarakat komunitas ini dan beberapa kelompok lainnya sering disebut secara bersamaan dalam Al-Qur’an dengan istilah ahl al-kitab. Ahli Kitab merupakan salah satu tema pokok yang diungkapkan Al-Qur’an, yang disebut sebanyak tiga puluh satu kali dalam berbagai ayat dan surat. Ahli Kitab adalah salah satu segi ajaran Islam yang sangat khas. Yaitu, konsep yang memberi pengakuan tertentu kepada penganut agama lain yang memiliki kitab suci. (Nurcholish Madjid, 1995: 69). 

Pengakuan ini bukan berarti bahwa semua agama adalah sama –suatu hal yang mustahil, mengingat kenyataannya agama yang ada adalah berbeda-beda dalam banyak hal yang prinsipil, tetapi memberikan pengakuan sebatas hak masing-masing untuk berada dengan kebebasan beragama, sesuai dengan doktrin Islam bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Al-Yahuud (Yahudi) merupakan kata yang banyak disebut dalam Al-Qur’an. Secara umum, kitab suci Islam ini menggunakan kata Al-Yahuud sebanyak delapan belas kali, dengan maksud sebagai kecaman atau gambaran negatif tentang mereka. 

Hal ini tampak jelas dalam beberapa ayat Allah yang menegaskan ketidakrelaan orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kaum muslim sebelum mengikuti jejak mereka (QS. Al-Baqarah, 2: 120): “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. 

Atau pengakuan mereka, bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah putra-putra dan kekasih Allah Swt. (QS, Al-Ma’idah, 5: 18): “ Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami Ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka Mengapa Allah menyiksa kamu Karena dosa-dosamu?" (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” 

Atau Pernyataan orang Yahudi bahwa “tangan Allah terbelenggu (kikir). (QS. Al-Ma’idah, 5: 64): “Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila'nat disebabkan apa yang Telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; dia menafkahkan sebagaimana dia kehendaki. dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. dan kami Telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” 

Atau adanya kebencian orang Yahudi terhadap kaum Muslim (QS. Al-Ma’idah, 5: 82): “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” 

Selain sebagai komunitas, istilah Yahudi dan Nasrani sering diidentikkan sebagai agama yang tentu saja memiliki rujukan kepada kitab suci. Kedua komunitas agama ini memiliki kitab suci yang jelas dan berbeda: Taurat sebagai kitab suci Yahudi dan Injil sebagai kitab suci Nasrani. 

Dalam pandangan kaum muslim, agama yang dianut kaum Yahudi dan Nasrani dianggap sebagai pendahulu agama mereka. Dan bahkan, kehadiran agama Islam bagi kaum muslim sebagai kelanjutan, pembetulan, dan penyempurnaan bagi agama mereka. Hal ini dipertegas Firman Allah Swt yang menyebutkan, bahwa Al-Qur’an datang untuk memberikan pembenaran dan sekaligus melakukan koreksi terhadap sebagian ajaran kaum Yahudi dan Nasrani.
QS. Ali Imran (3) ayat 3: “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan Sebenarnya; membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” 
QS. Al-Ma’idah (5) ayat 48: “Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu.” 
QS Al-An’am, (6) ayat 92:  “ Dan Ini (Al Quran) adalah Kitab yang Telah kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.” 

Al-Qur’an juga menjelaskan, Nabi Isa sebagai Nabi dan rasul-Nya, serta pembawa kaum Nasrani pernah mengajak kaum Yahudi untuk mengikuti ajaran-ajaran yang terkandung dalam Injil. Sebab mereka yakin bahwa ajaran-ajaran dalam Injil merupakan kelanjutan dari ajaran Taurat yang dibawa Nabi Musa as. 

Kaum Nasrani juga mengabarkan tentang datangnya seorang Nabi, yaitu Nabi Muhammad Saw. yang menyempurnakan agama kedua komunitas tersebut (QS. Ash-Shaf (61) ayat 6). Dengan demikian tampak jelas, bahwa kehadiran agama-agama Samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) ditengah-tengah umat manusia berlangsung dan diterima secara berangsur-angsur. Begitu pula dengan adanya penegasan yang otentik dari Al-Qur’an, bahwa Tuhan umat Islam dan Tuhan ahli Kitab adalah tidak berbeda. Penegasan ini mucul setelah didahului dengan pesan bahwa janganlah kaum muslim berbantah dengan mereka, melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap mereka yang zhalim (QS. Al-‘Ankabut (29) ayat 46), (QS. Asy-Syura’ (42) ayat 15). 

Penjelasan Al-Qur’an ini membuktikan bahwa agama Ahli Kitab berkesinambungan akidah dan sumber yang sama denga Islam. Nabi Musa as dan Nabi Isa as beserta kitab-kitab sucinya pun dimasukkan sebagai bagian dari keimanan bagi umat Islam. Mengingkari keberadaan Musa dan Isa sebagai Nabi dan Rasul-Nya serta Taurat dan Injil sebagai kitab-kitab suci-Nya maka keimanan seseorang dapat dinyatakan tidak sempurna dan bahkan dapat dikategorikan sebagai keluar dari Islam (Kufr). Islam bahkan memberikan keitimewaan khusus kepada agama Yahudi dan Nasrani. Kehormatan yang diberikan Islam kepada Yahudi dan Nasrani bukanlah sekedar basa-basi, tetapi merupakan suatu pengakuan terhadap keberadaan dan kebenaran kedua agama tersebut. Dan bahkan kedudukan sah Yahudi dan Nasrani tidak hanya bersifat sosio-politis, cultural ataupun peradaban, tetapi juga bersifat keagamaan—seperti diakui sendiri oleh Al-Qur’an. Tegasnya, kedua agama ini menduduki posisi yang distingtif dalam ajaran Islam itu sendiri (Azra, 1999: 34). Dengan demikian jelas dan wajar bila Islam mengakui hak hidup orang agama lain dan membenarkan ajaran-ajaran agama masing-masing. Disinilah letak dasar ajaran Islam mengenai toleransi (Tasaamuh) beragama. 

III. PENUTUP 
Demikianlah makalah ini kami buat, bahwa agama Islam dan Yahudi merupakan agama Samawi yang saling mendukung terhadap eksistensi kedua agama tersebut. Semoga dengan makalah ini bisa memberikan kontribusi penting untuk merajut solidaritas, dialog dan kerukunan antarumat beragama. 

IV. DAFTAR PUSTAKA

Bleeker, C. J. Pertemuan Agama-Agama Dunia. Jakarta: Sumur Bandung, 1963. 

Hermawati, Sejarah Agama & Bangsa Yahudi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005. 

Iqbal, Asep Muhammad. Yahudi & Nasrani dalam Al-Qur’an; Hubungan Antar Agama Menurut Syaikh Nawawi Banten. Jakarta: Teraju, 2004. 

Rifa’i, Moh. Perbandingan Agama. Semarang: Wicaksana, 1980. 

Shalaby, Ahmad. Perbandingan Agama. Jakarta: Bumi Aksara, 1996. 

Thalhas, T. H. Pengantar Studi Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta: Galura Pase, 2006.
»»  READMORE...

Kamis, 07 Juni 2012

AGAMA BUDDHA DI CHINA


Buddhisme atau   (fójiào) pertama kali dibawa ke Cina dari India oleh para misionaris dan pedagang di sepanjang Jalan Sutra yang menghubungkan Cina dengan Eropa pada akhir Dinasti Han (202 SM - 220 M).
Pada saat itu, Buddhisme India sudah lebih dari 500 tahun, tetapi iman tidak mulai berkembang di China sampai penurunan dari Dinasti Han dan mengakhiri keyakinan ketat Konfusianisme.
Sebelum agama Buddha masuk di Cina, masyarakat Cina sudah memiliki kepercayaan sendiri, yakni Kong Hu Chu yang diajarkan oleh Confusius, dan Tao yang diajarkan oleh Lao Tzu. Confusius mengajarkan tentang “jen” sebagai azas kesatuan, sedangkan Lao Tzu mengajarkan tentang “Tao Te Ching”. Agama Buddha mulai berkembang di Cina sekitar abd ke-2 s.M melalui Asia Tengah serta mulai berpengaruh pada masa pemerintahan kaisar Ming (58-75 M).
Dalam filsafat Buddha . Ada orang-orang yang mengikuti Buddhisme Theravada tradisional, yang melibatkan meditasi yang ketat dan membaca lebih dekat dari ajaran asli Sang Buddha. Buddhisme Theravada menonjol di Sri Lanka dan sebagian besar Asia Tenggara.
Agama Buddha yang memegang di Cina adalah Mahayana Buddhisme, yang mencakup berbagai bentuk seperti Buddhisme Zen, Pure Tanah Buddhisme dan Buddhisme Tibet - juga dikenal sebagai Lamaism.
Mahayana Buddhis percaya di banding yang lebih luas dengan ajaran Buddha dibandingkan dengan pertanyaan filosofis yang lebih abstrak diajukan dalam Buddhisme Theravada. Buddha Mahayana juga menerima Buddha kontemporer seperti Amitabha, Buddha Theravada yang tidak.
Buddhisme mampu untuk secara langsung menjawab konsep penderitaan manusia - yang memiliki daya tarik yang luas untuk orang Cina yang berurusan dengan kekacauan dan perpecahan negara berperang bersaing untuk kontrol setelah jatuhnya Han.
Banyak etnis minoritas di China juga mengadopsi ajaran Buddha. (Lihat grafik)
Buddhisme sebagai Agama Negara:
Popularitas Buddhisme, menyebabkan konversi cepat untuk Buddhisme kemudian oleh penguasa Cina. Sui dan Dinasti Tang berikutnya semua diadopsi Buddha sebagai agama mereka.
Agama ini juga digunakan oleh penguasa asing dari Cina, seperti Dinasti Yuan dan Manchu, untuk menghubungkan dengan Cina dan membenarkan kekuasaan mereka. Para Machus diupayakan untuk menarik paralel antara agama Buddha. agama asing, dan pemerintahan mereka sendiri sebagai pemimpin asing.
Kontemporer Buddhisme:
Meskipun pergeseran China untuk ateisme setelah Komunis menguasai Cina pada tahun 1949, Buddha terus tumbuh di Cina, terutama setelah reformasi ekonomi pada tahun 1980an.
Saat ini ada diperkirakan pengikut agama Buddha di Cina dan lebih dari 20.000 kuil Buddha. Ini adalah agama terbesar di Cina.
Aliran-aliran agama Buddha yang berkembang di Cina secara garis besar ada dua paham, yaitu : 1. aliran paham atta, 2. aliran paham anatta.
1. 1. Aliran Theravada
Aliran Theravada pada mulanya terbagi atas tiga aliran, antara lain : Cheng-shih (Sautrantika), Chu-she (Vaibhashika), Lu. Ketiga aliran ini tidak berumur lama karena kalah dari aliran-aliran baru dari mazhab Mahayana.

1. 2. Aliran Mahayana
ada beberapa aliran dalam mazhab Mahayana, antara lain : San-lun, We-shih, Tien-tai, Hua-yen, Chan, Ching-tu,Chen-yen. Diantara ketujuh aliran tersebut hanya empat yang paling berpengaruh, yaitu : Tien-tai, Hua-yen, Chan, Ching-tu.

Tokoh-tokoh agama Buddha di Cina.
1. Kumarajiva (Ci-mo-lo-shi)
Kumarajiva berasal dari kashmir. Tinggal di Cina mulai awal abad ke-5 M dan memimpin lembaga yang bertugas menterjemah kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Cina. Terjemahannya meliputi 300 jilid buku. Kumarajiva meninggal pada tahun 413 M.
2. Paramartha (Po-lo-mo-tho)
Paramatha berasal dari Ujjain dan dikirim ke Cina oleh raja Magadha, tahun 548 M tiba di Nanking. Paramatha meniggal dalam usia 71 tahun pada tahun 568 M. Meninggalkan karya terjemahan sebanyak 70 judul kitab agama Buddha.
»»  READMORE...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More