Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Maret 2015

Tuhan Maha Dekat

Terdengar suara lantunan ayat Suci Al-Qur’an dari pengeras suara yang ada di Masjid dekat rumah. aku pun bangun mulai bergerak untuk berwudhu sesekali aku terdiam mendengarkan indahnya lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Qori H. Muammar ZA. Kemudian aku pun segera bergegas untuk berpakaian rapi dan mulai melangkahkan kaki bergerak menuju Masjid karena sebentar lagi adzan subuh akan dikumandangkan. Setelah selesai shalat Subuh Berjama’ah, seperti biasa agenda rutin minggu pagi di masjid saya ada pengajian Al-Qur’an Ayat yang dibaca dan dikaji oleh sang Ustadz, ialah Surat Al-Baqarah ayat 186 seperti tertulis di bawah ini:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦ [سورة البقرة,١٨٦]

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”
 (Q.S. Al Baqarah:186)

Sang ustadz menjelaskan, adapun asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya) ayat ini, yaitu ketika ada seseorang yang bertanya mengenai keberadaan Allah SWT. apakah Allah itu dekat? Sehingga aku harus berdo’a dengan suara yang rendah dan lemah lembut. Apakah Allah itu jauh? Sehingga aku harus berdo’a dengan suara yang keras. Mendengar pertanyaan seorang hamba tersebut, turunlah ayat ini kepada Rasulullah SAW: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.” Bahkan dalam ayat lain yang disebutkan bahwasanya “Allah SWT itu lebih dekat dari urat nadi kita.” Maksud dari penggalan awal ayat ini adalah bahwa kita sebagai hamba Allah SWT harus meyakini bahwa Allah SWT itu dekat bahkan sangat dekat lebih dekat dari urat nadi kita. Sehingga dalam beraktifitas kita akan sadar bahwa kita selalu dilihat dan di awasi oleh Allah SWT.

Penggalan ayat berikutnya, menjelaskan sebuah hukum kausalitas (sebab-akibat) bahwa Allah SWT akan mengabulkan permohonan seorang hamba jika hamba itu berdo’a atau memohon kepada-Nya. Mana mungkin Allah SWT akan memberikan seseuatu jika kita tidak memintanya. Maka dari itu, marilah kita selalu berdo’a kepada-Nya sebagai pertanda bahwa kita selalu butuh kepada-Nya. Allah SWT akan menyebut orang yang tidak mau berdo’a kepada-Nya sebagai orang yang sombong. Potongan ayat berikutnya berbunyi:

“...maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Masih berkaitan dengan penafsiran potongan ayat sebelumnya, bahwa dalam hal ini Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk selalu beribadah memenuhi perintah-Nya. Sebab dengan demikian kita akan mendapatkan balasan yang setimpal, yakni kebenaran. Kita akan selalu berada di jalan yang benar. Jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Alkisah, diceritakan pada suatu hari ada seseorang yang terdampar di sebuah pulau terpencil karena kapal yang ia tumpangi tenggelam di laut. Ketika itu, dia berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bertahan di pulau tersebut dengan harapan akan ada datang pertolongan untuk menyelamatkannya. Dia mulai bertahan hidup dengan mencari air tawar untuk minum, membangun tempat tinggal, dan sebagainya. Singkat cerita, gubug atau tempat yang ia bangun tersebut terbakar oleh ulahnya sendiri. Dia mulai kesal dan berkeluh kesah, dia mencurahkan hatinya: Kenapa harus seperti ini ya Allah? Gubug yang sudah aku bangun dengan susah payah tiba-tiba terbakar begitu saja? Apa salahku? Padahal aku selalu berdo’a dan meminta pertolongan kepada-Mu.

Berjalannya waktu, tiba-tiba datanglah sebuah kapal untuk menolongnya. Hatinya senang dan gembira. Dia bertanya kepada awak kapal yang menolongnya, “bagaimana kalian bisa mengetahui aku berada di pulau terpencil ini?”, salah seorang awak kapal menjawab, “aku melihat ada gumpalan asap dari sebuah pulau lalu aku bersama teman-temanku langsung berangkat menuju tempat darimana asap itu berasal, kami berpikir bahwa ternyata di pulau itu ada kehidupan, dan setelah aku sampai ternyata aku menemukanmu yang terdampar di sini. Beruntunglah kamu karena berkat asap itu kami bisa menolongmu.”

Mendengar jawaban salah satu ABK itu, dia mulai sadar bahwa ternyata Allah SWT selalu menolong hamba-Nya dengan cara-cara yang diluar dugaan hamba-Nya (min haitsu laa yahtasib). Padahal awalnya dia berkeluh kesah, namun setelah kejadian ini dia bertobat dan bertawakal kepada Allah SWT.

Dari kisah di atas kita bisa mengambil hikmah atau pelajaran yang berharga, yakni janganlah kita berburuk-sangka kepada Allah SWT. jangan ada dalam pikiran kita bahwa Allah SWT itu tidak adil, karena do’a-do’a yang kita panjatkan tak kunjung terkabulkan. Justru seharusnya kita berintrospeksi diri, mengapa bisa begitu? Mungkin saja kita masih banyak dosa dan hijab yang mengahalangi dikabulkannya do’a kita. Mungkin saja do’a yang kita panjatkan untuk sementara ditangguhkan dulu oleh Allah SWT sebagai bekal kita di akhirat. Allah SWT itu lebih mengetahui apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bisa saja kita menjadi orang yang sombong apabila Allah SWT selalu mengabulkan setiap do’a kita.

Dengan demikian, marilah kita bersama-sama untuk kembali kepada jalan-Nya. Yakni jalan kebenaran. Kita harus mengikuti aturan-aturan yang telah dibuat oleh Allah SWT. konsekuensi logisnya adalah Allah SWT pasti akan mengabulkan do’a kita jika kita selalu dekat dan selalu beribadah menjalankan segala perintah-Nya.


Semoga bermanfaat.
»»  READMORE...

Kamis, 26 Maret 2015

Celotehanku

Mari kita refleksi sejenak, apa saja yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia ini? Kita semua tahu bahwa hidup ini hanya sementara, hanya sebuah tempat perantara untuk kita menuju tempat nan abadi dimana kita akan menjalankan kehidupan yang sesungguhnya. Hidup ini ibarat sebuah pulau tempat kita singgah untuk mangumpulkan bekal sebanyak-banyaknya sebelum kita melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya, yakni pulau keabadian.

Setiap hari kita beraktifitas, dari pagi sampai malam. Terlepas dari profesi apa kita di dunia ini, kita semua akan kembali kepada-Nya. Tentu ini adalah sebuah kepastian. Kita semua akan melewatinya, namun dengan proses yang berbeda-beda. Akan memasuki kelas apa kita nanti setelah hidup di dunia ini? Ekonomi kah? Eksekutif kah? Atau bisnis kah? Atau mungkin kita ingin merasakan semuanya. Pastinya semua orang tidak ingin merasakan pahitnya hidup di pulau keabadian nanti. Namun sangat tidak mungkin atau mustahil adanya jika semua umat manusia “selamat”. Pasti akan ada yang tergelincir memasuki wilayah yang dilarang oleh-Nya. Tinggal tergantung kita, apakah kita mau masuk ke lubang hitam pulau keabadian itu? Saya yakin anda yang membaca tulisan ini pasti akan menjawab tidak mau. Sebab, mana mungkin manusia yang secara nature dan fitrahnya nya hanya menginginkan kesenangan dan kebahagiaan  tapi justru malah memasuki lubang hitam itu. Itulah sebuah fenomena kehidupan manusia. Di satu sisi, manusia ingin selamat, namun di sisi lain mereka justru menghalangi jalan menuju keselamatan itu. Aneh ternyata.

Tapi, di balik semua fenomena itu, kita sebagai manusia yang diberikan akal yang super canggih, harus berfikir  bahwa jika kita ingin selamat, maka lakukanlah hal-hal atau perbuatan yang menyelamatkan kita. Artinya berbuat kebaikan. Jangan malah sebaliknya. Logikanya jika kita ingin mendapatkan nilai bagus, maka caranya dengan cara belajar yang rajin dan giat serta tekun dan juga banyak berdo’a. Maka kita akan mendapatkan nilai yang bagus. Dan seterusnya.

Tulisan ini masih sangat butuh perbaikan, saran dan masukannya akan saya terima dengan tangan terbuka. Semoga bermanfaat. ^_^

Bogor, 26 Maret 2015

Pukul 22.00 WIB
»»  READMORE...

Senin, 23 Maret 2015

NEGERI KLEPTOKRASI???


Ada yang menganggap situasi Indonesia sekarang ini mirip dengan Negara Zaire pada masa pemerintahan Mobutu. Negeri yang hidup dalam sistem "kleptokrasi", karena sistem pemerintahan dan budaya masyarakatnya dikuasai oleh para "kleptomaniak". 


Apa itu Kleptomania?



Adalah penyakit jiwa yang mendorong seseorang mencuri sesuatu, meskipun dia telah memiliki sesuatu yang dicurinya. Sudah punya, tetapi kenapa masih mau mencuri? Karena senang? Karena serakah? Karena kebiasaan? Atau karena mereka tidak sadar sedang mencuri dan merugikan negara/orang lain. Ya, itulah "kleptomania". Tiada hari tanpa mencuri.



Contohnya: 
Bagaimana mungkin para sipir lembaga pemasyarakatan justru menjadi 'backing' pengedar narkoba di tahanan? Bagaimana mungkin lembaga penegak hukum, mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Hakim malah jadi lembaga yang dipersepsikan lembaga survei paling korup? Bagaimana mungkin Kementerian Agama, tempat berkumpul para "santri" yang sholeh justru memberi contoh tak sedap soal korupsi dana haji. Bagaimana mungkin (kalau kita mengurus SIM) polisi yang harusnya memberantas calo justru jadi calo itu sendiri. Bagaimana mungkin akademisi, profesor, ahli dan pejuant korupsi juga terseret kasus korupsi? Sampai hari ini pun kita lihat lagi keanehan, Ketua KPK dan Wakilnya dikriminalisasi. 



Moody-Stuart (1977) dalam bukunya "Grand Corruption in Third World Development" mengamati bahwa di dunia ketiga, korupsi besar terdapat pada tingkat tinggi pemerintahan dengan cara memberikan izin atau lisensi secara istimewa kepada pelaku bisnis tertentu dengan imbalan yang menguntungkan pejabat tersebut. Tindakan ini jelas dapat disamakan dengan mencuri uang negara dengan cara-cara formal, karena dilegalkan oleh perundang-undangan yang memang sengaja dibuat pemeruntah khusus untuk itu. 



Dalam wacana akademik, perilaku ini dikenal sebagai perilaku "KLEPTOKRATIK". 



Para kleptomaniak ini tidak perlu susah payah dalam mencuri uang negara. Mereka cukup dengan merekayasa regulasi dan memberi hak istimewa kepada swasta tertentu untuk menguasai/memonopoli, yang sebelumnya menjadi hak dan kewenangan negara. Biasanya dengan alasan efisiensi dan mengurangi beban negara. Dengan alasan demokratisasi ekonomi, mengurangi peran negara, pemerintah membuat berbagai kebijakan deregulasi. 



Para kleptomaniak, dengan berlindung dan memanfaatkan paradigma deregulasi tersebut, sebenarnya semata-mata berfikir untuk memperoleh keuntungan pribadi dan kelompok untuk mempertahankan kekuasaan. Dalam perspektif ini, sistem ekonomi apapun yang dikembangkan tetap akan memunculkan korupsi, kalau para pejabat negara memang berfikir untuk korupsi dan berorientasi pada mencari untung. Karenanya fenomena birokrasi saat ini terjadi bukan sekedar karena buruknya praktik sistem administrasi publik, tetapi karena buruknya perilaku para pejabat yang selalu memperoleh untung dengan cara memanfaatkan jabatannya. Sebagus apapun administrasi publik, jika para pejabatnya bermoral buruk, pastilah korupsi tidak dapat dihindarkan.



Sekian sedikit pembahasan mengenai Negeri Kleptokrasi. 



Note: Diolah Dari Berbagai sumber.
»»  READMORE...

The Migration Policy: A Case of Rohingya Refugees

Hai para bloger, berikut ini adalah tulisan esai yang saya kirimkan untuk mengikuti sebuah event Internasional yaitu "13rd Melaka International Youth Dialogue" dengan temanya yaitu "Youth and Migration" bertempat di Melaka, Malaysia pada tahun 2013 lalu. Semoga bermanfaat ^_^ 

The United Nations defines international migrants as persons who reside outside of their country of origin for one year or more. As of 2010 the UN estimated approximately 214 million international migrants. International migration has undoubtedly become a pressing development issue in recent times, not only for governments and the international community but also for a broad range of society actors in both the global North and South. The migration can be distinguished between those who move by choice (voluntary migration) and they were forced to leave the land of birth (involuntary migration) as workers (migrant workers), refugees or asylum seekers. Many of the factors that make them migrate. Factors of the country of origin can be a natural disaster, unemployment, government repression, wars, and so on. 

If we look back at the case of Myanmar Rohingya people who get miserable treatment of their own government, it makes their citizenship status was not clear until now. According to the Myanmar Citizenship Law, which was amended in 1982, Rohingya is not part of ethnics of Myanmar. They are also considered as illegal immigrants in their homeland. Along the status of those who are not of any nationality, they began to experience a variety of difficulties, such as food shortages . Due to economic pressures, every year thousands of Rohingya people must flee from Burma migrating to Thailand, Malaysia, Indonesia and even to Australia. Due to unclear status of citizenship, many Rohingya people become illegal migrant workers, refugees and asylum seekers. In the destination country, they live illegally and work as illegal workers with low wages. However, it does not mean they are safe from pursuit immigration destination country. If they are caught, they will be returned to their native country. 

Until now, the Myanmar government considers the Rohingya people living in the country as foreigners and sadly, most people of Myanmar regard them as illegal immigrants from Bangladesh and against them. It is estimated that currently about 800.000 Rohingya living in Myanmar. For decades the government of Myanmar continues to experience discrimination for Rohingya, the men would not have citizenship. The UN was calling them one of the most persecuted minorities in the world. The bad treatment has caused their migration to some countries such as Thailand, Malaysia, Indonesia, and Australia. As human being who deserves living in peace, they should get good treatment as well, the Rohingya people deserve to live in peace, secure, and serene as what experienced by other community in other countries. Further, the most important thing is respecting their rights. Of course, it needs all the countries in the world to support the ideas. Rohingya people also need to live in peace, as peace is one thing that is hoped by every human being. Therefore, there are at least two things which become fundamental problem solving related these problems: 

1. Cooperation and a positive contribution from all state governments in the world that are members of the UN to provide an opportunity for Rohingya people to live in peace. 

2. Cooperation of the youth around the world. Based on the United Nations Report on the Global Situation of Youth mention; Most young people about 85% live in developing countries with 60% in Asia. Asian continent that has a very broad scope geographically and it should be our focus as a young man in the world to help harness the potential of this remarkable large. 

The Youth participation is very important to be involved in discussion. Youth can give contribution about the ideas how to solve the case like Rohingya refugees. Why youth? Because youth substitute generation, they change older generation that hopefully to continue the previous good generation of humanity. Youth is agent of change that can produces policy to create peace in the worlds through their sharing ideas among them and they also young generation that have high spirit, modifier and reformer. Thus, the 13th Melaka International Youth Dialogue can be a forum to produce policies regarding to international migration.
»»  READMORE...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More